Senin, 16 Februari 2009

OUTSOURCING (ALIH DAYA) DAN PENGELOLAAN TENAGA KERJA PADA PERUSAHAAN: (Tinjauan Yuridis terhadap Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagak

I. Pendahuluan

Persaingan dalam dunia bisnis antar perusahaan membuat perusahaan harus berkonsentrasi pada rangkaian proses atau aktivitas penciptaan produk dan jasa yang terkait dengan kompetensi utamanya. Dengan adanya konsentrasi terhadap kompetensi utama dari perusahaan, akan dihasilkan sejumlah produk dan jasa memiliki kualitas yang memiliki daya saing di pasaran.

Dalam iklim persaingan usaha yang makin ketat, perusahaan berusaha untuk melakukan efisiensi biaya produksi (cost of production).[1] Salah satu solusinya adalah dengan sistem outsourcing, dimana dengan sistem ini perusahaan dapat menghemat pengeluaran dalam membiayai sumber daya manusia (SDM) yang bekerja di perusahaan yang bersangkutan.[2]

Outsourcing (Alih Daya) diartikan sebagai pemindahan atau pendelegasian beberapa proses bisnis kepada suatu badan penyedia jasa, dimana badan penyedia jasa tersebut melakukan proses administrasi dan manajemen berdasarkan definisi serta kriteria yang telah disepakati oleh para pihak.[3]

Outsourcing (Alih Daya) dalam hukum ketenagakerjaan di Indonesia diartikan sebagai pemborongan pekerjaan dan penyediaan jasa tenaga kerja[4] pengaturan hukum outsourcing (Alih Daya) di Indonesia diatur dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan Nomor 13 tahun 2003 (pasal 64, 65 dan 66) dan Keputusan Menteri Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Republik Indonesia No.Kep.101/Men/VI/2004 Tahun 2004 tentang Tata Cara Perijinan Perusahaan Penyedia Jasa Pekerja/Buruh (Kepmen 101/2004).Pengaturan tentang outsourcing (Alih Daya) ini sendiri masih dianggap pemerintah kurang lengkap.
Dalam Inpres No. 3 Tahun 2006 tentang paket Kebijakan Iklim Investasi disebutkan bahwa outsourcing (Alih Daya) sebagai salah satu faktor yang harus diperhatikan dengan serius dalam menarik iklim investasi ke Indonesia. Bentuk keseriusan pemerintah tersebut dengan menugaskan menteri tenaga kerja untuk membuat draft revisi terhadap Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan.[5]

Outsourcing tidak dapat dipandang secara jangka pendek saja, dengan menggunakan outsourcing perusahaan pasti akan mengeluarkan dana lebih sebagai management fee perusahaan outsourcing. Outsourcing harus dipandang secara jangka panjang, mulai dari pengembangan karir karyawan, efisiensi dalam bidang tenaga kerja, organisasi, benefit dan lainnya. Perusahaan dapat fokus pada kompetensi utamanya dalam bisnis sehingga dapat berkompetisi dalam pasar, dimana hal-hal intern perusahaan yang bersifat penunjang (supporting) dialihkan kepada pihak lain yang lebih profesional. Pada pelaksanaannya, pengalihan ini juga menimbulkan beberapa permasalahan terutama masalah ketenagakerjaan.
Problematika mengenai outsourcing (Alih Daya) memang cukup bervariasi. Hal ini dikarenakan penggunaan outsourcing (Alih Daya) dalam dunia usaha di Indonesia kini semakin marak dan telah menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditunda-tunda oleh pelaku usaha, sementara regulasi yang ada belum terlalu memadai untuk mengatur tentang outsourcing yang telah berjalan tersebut. Secara garis besar permasalahan hukum yang terkait dengan penerapan outsourcing (Alih Daya) di Indonesia sebagai berikut:
1. Bagaimana perusahaan melakukan klasifikasi terhadap pekerjaan utama (core business) dan pekerjaan penunjang perusahaan (non core bussiness) yang merupakan dasar dari pelaksanaan outsourcing (Alih Daya) ?
2. Bagaimana hubungan hukum antara karyawan outsourcing (Alih Daya) den perusahaan pengguna jasa outsourcing ?
3. Bagaimana mekanisme penyelesaian sengketa bila ada karyawan outsource yang melanggar aturan kerja pada lokasi perusahaan pemberi kerja?
II. Definisi Outsourcing

Dalam pengertian umum, istilah outsourcing (Alih Daya) diartikan sebagai contract (work) out seperti yang tercantum dalam Concise Oxford Dictionary, sementara mengenai kontrak itu sendiri diartikan sebagai berikut:[6]

“ Contract to enter into or make a contract. From the latin contractus, the past participle of contrahere, to draw together, bring about or enter into an agreement.” (Webster’s English Dictionary)

Pengertian outsourcing (Alih Daya) secara khusus didefinisikan oleh Maurice F Greaver II, pada bukunya Strategic Outsourcing, A Structured Approach to Outsourcing: Decisions and Initiatives, dijabarkan sebagai berikut :[7]

“Strategic use of outside parties to perform activities, traditionally handled by internal staff and respurces.”

Menurut definisi Maurice Greaver, Outsourcing (Alih Daya) dipandang sebagai tindakan mengalihkan beberapa aktivitas perusahaan dan hak pengambilan keputusannya kepada pihak lain (outside provider), dimana tindakan ini terikat dalam suatu kontrak kerjasama

Beberapa pakar serta praktisi outsourcing (Alih Daya) dari Indonesia juga memberikan definisi mengenai outsourcing, antara lain menyebutkan bahwa outsourcing (Alih Daya) dalam bahasa Indonesia disebut sebagai alih daya, adalah pendelegasian operasi dan manajemen harian dari suatu proses bisnis kepada pihak luar (perusahaan jasa outsourcing).[8] Pendapat serupa juga dikemukakan oleh Muzni Tambusai, Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi yang mendefinisikan pengertian outsourcing (Alih Daya) sebagai memborongkan satu bagian atau beberapa bagian kegiatan perusahaan yang tadinya dikelola sendiri kepada perusahaan lain yang kemudian disebut sebagai penerima pekerjaan.[9]

Dari beberapa definisi yang dikemukakan di atas, terdapat persamaan dalam memandang outsourcing (Alih Daya) yaitu terdapat penyerahan sebagian kegiatan perusahaan pada pihak lain.

III. Pengaturan Outsourcing (Alih Daya) dalam Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan

UU No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan sebagai dasar hukum diberlakukannya outsourcing (Alih Daya) di Indonesia, membagi outsourcing (Alih Daya) menjadi dua bagian, yaitu: pemborongan pekerjaan dan penyediaan jasa pekerja/buruh.[10] Pada perkembangannya dalam draft revisi Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan outsourcing (Alih Daya) mengenai pemborongan pekerjaan dihapuskan, karena lebih condong ke arah sub contracting pekerjaan dibandingkan dengan tenaga kerja.[11]

Untuk mengkaji hubungan hukum antara karyawan outsourcing (Alih Daya) dengan perusahaan pemberi pekerjaan, akan diuraikan terlebih dahulu secara garis besar pengaturan outsourcing (Alih Daya) dalam UU No.13 tahun 2003.

Dalam UU No.13/2003, yang menyangkut outsourcing (Alih Daya) adalah pasal 64, pasal 65 (terdiri dari 9 ayat), dan pasal 66 (terdiri dari 4 ayat).

Pasal 64 adalah dasar dibolehkannya outsourcing. Dalam pasal 64 dinyatakan bahwa: Perusahaan dapat menyerahkan sebagian pelaksanaan pekerjaan kepada perusahaan lainnya melalui perjanjian pemborongan pekerjaan atau penyediaan jasa pekerja/buruh yang dibuat secara tertulis.”

Pasal 65 memuat beberapa ketentuan diantaranya adalah:
• penyerahan sebagian pelaksanaan pekerjaan kepada perusahaan lain dilaksanakan melalui perjanjian pemborongan pekerjaan yang dibuat secara tertulis (ayat 1);
• pekerjaan yang diserahkan pada pihak lain, seperti yang dimaksud dalam ayat (1) harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
- dilakukan secara terpisah dari kegiatan utama;
- dilakukan dengan perintah langsung atau tidak langsung dari pemberi pekerjaan;
- merupakan kegiatan penunjang perusahaan secara keseluruhan;
- tidak menghambat proses produksi secara langsung. (ayat 2)
• perusahaan lain (yang diserahkan pekerjaan) harus berbentuk badan hukum (ayat 3);
perlindungan kerja dan syarat-syarat kerja pada perusahaan lain sama dengan perlindungan kerja dan syarat-syarat kerja pada perusahaan pemberi pekerjaan atau sesuai dengan peraturan perundangan (ayat 4);
• perubahan atau penambahan syarat-syarat tersebut diatas diatur lebih lanjut dalam keputusan menteri (ayat 5);
• hubungan kerja dalam pelaksanaan pekerjaan diatur dalam perjanjian tertulis antara perusahaan lain dan pekerja yang dipekerjakannya (ayat 6)
• hubungan kerja antara perusahaan lain dengan pekerja/buruh dapat didasarkan pada perjanjian kerja waktu tertentu atau perjanjian kerja waktu tidak tertentu (ayat 7);
• bila beberapa syarat tidak terpenuhi, antara lain, syarat-syarat mengenai pekerjaan yang diserahkan pada pihak lain, dan syarat yang menentukan bahwa perusahaan lain itu harus berbadan hukum, maka hubungan kerja antara pekerja/buruh dengan perusahaan penyedia jasa tenaga kerja beralih menjadi hubungan kerja antara pekerja/buruh dengan perusahaan pemberi pekerjaan (ayat 8).

Pasal 66 UU Nomor 13 tahun 2003 mengatur bahwa pekerja/buruh dari perusahaan penyedia jasa tenaga kerja tidak boleh digunakan oleh pemberi kerja untuk melaksanakan kegiatan pokok atau kegiatan yang berhubungan langsung dengan proses produksi, kecuali untuk kegiatan jasa penunjang yang tidak berhubungan langsung dengan proses produksi.[12] Perusahaan penyedia jasa untuk tenaga kerja yang tidak berhubungan langsung dengan proses produksi juga harus memenuhi beberapa persyaratan, antara lain:[13]
• adanya hubungan kerja antara pekerja dengan perusahaan penyedia jasa tenaga kerja;
• perjanjian kerja yang berlaku antara pekerja dan perusahaan penyedia jasa tenaga kerja adalah perjanjian kerja untuk waktu tertentu atau tidak tertentu yang dibuat secara tertulis dan ditandatangani kedua belah pihak;
• perlindungan upah, kesejahteraan, syarat-syarat kerja serta perselisihan yang timbul menjadi tanggung jawab perusahaan penyedia jasa pekerja/buruh;
• perjanjian antara perusahaan pengguna jasa pekerja/buruh dan perusahaan penyedia jasa pekerja/buruh dibuat secara tertulis.
Penyedia jasa pekerja/buruh merupakan bentuk usaha yang berbadan hukum dan memiliki izin dari instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan.[14] Dalam hal syarat-syarat diatas tidak terpenuhi (kecuali mengenai ketentuan perlindungan kesejahteraan), maka demi hukum status hubungan kerja antara pekerja/buruh dan perusahaan penyedia jasa pekerja/buruh beralih menjadi hubungan kerja antara pekerja/buruh dan perusahaan pemberi pekerjaan.[15]

IV. Penentuan Pekerjaan Utama (Core Business) dan Pekerjaan Penunjang (Non Coree Business) dalam Perusahaan sebagai Dasar Pelaksanaan Outsourcing

Berdasarkan pasal 66 UU No.13 Tahun 2003 outsourcing (Alih Daya) dibolehkan hanya untuk kegiatan penunjang, dan kegiatan yang tidak berhubungan langsung dengan proses produksi.

R.Djokopranoto dalam materi seminarnya menyampaikan bahwa :

“Dalam teks UU no 13/2003 tersebut disebut dan dibedakan antara usaha atau kegiatan pokok dan kegiatan penunjang. Ada persamaan pokok antara bunyi UU tersebut dengan praktek industri, yaitu bahwa yang di outsource umumnya (tidak semuanya) adalah kegiatan penunjang (non core business), sedangkan kegiatan pokok (core business) pada umumnya (tidak semuanya) tetap dilakukan oleh perusahaan sendiri. Namun ada potensi masalah yang timbul. Potensi masalah yang timbul adalah apakah pembuat dan penegak undang-undang di satu pihak dan para pengusaha dan industriawan di lain pihak mempunyai pengertian dan interpretasi yang sama mengenai istilah-istilah tersebut.”[16]

Kesamaan interpretasi ini penting karena berdasarkan undang-undang ketenagakerjaan outsourcing (Alih Daya) hanya dibolehkan jika tidak menyangkut core business. Dalam penjelasan pasal 66 UU No.13 tahun 2003, disebutkan bahwa :

”Yang dimaksud dengan kegiatan penunjang atau kegiatan yang tidak berhubungan langsung dengan proses produksi adalah kegiatan yang berhubungan di luar usaha pokok (core business) suatu perusahaan.Kegiatan tersebut antara lain: usaha pelayanan kebersihan (cleaning service), usaha penyediaan makanan bagi pekerja/buruh catering, usaha tenaga pengaman (security/satuan pengamanan), usaha jasa penunjang di pertambangan dan perminyakan, serta usaha penyediaan angkutan pekerja/buruh.”

Interpretasi yang diberikan undang-undang masih sangat terbatas dibandingkan dengan kebutuhan dunia usaha saat ini dimana penggunaan outsourcing (Alih Daya) semakin meluas ke berbagai lini kegiatan perusahaan.

Konsep dan pengertian usaha pokok atau core business dan kegiatan penunjang atau non core business adalah konsep yang berubah dan berkembang secara dinamis.[17] Oleh karena itu tidak heran kalau Alexander dan Young (1996) mengatakan bahwa ada empat pengertian yang dihubungkan dengan core activity atau core business. Keempat pengertian itu ialah :[18]
• Kegiatan yang secara tradisional dilakukan di dalam perusahaan.
• Kegiatan yang bersifat kritis terhadap kinerja bisnis.
• Kegiatan yang menciptakan keunggulan kompetitif baik sekarang maupun di waktu yang akan datang.
• Kegiatan yang akan mendorong pengembangan yang akan datang, inovasi, atau peremajaan kembali.
Interpretasi kegiatan penunjang yang tercantum dalam penjelasan UU No.13 tahun 2003 condong pada definisi yang pertama, dimana outsourcing (Alih Daya) dicontohkan dengan aktivitas berupa pengontrakan biasa untuk memudahkan pekerjaan dan menghindarkan masalah tenaga kerja. Outsourcing (Alih Daya) pada dunia modern dilakukan untuk alasan-alasan yang strategis, yaitu memperoleh keunggulan kompetitif untuk menghadapi persaingan dalam rangka mempertahankan pangsa pasar, menjamin kelangsungan hidup dan perkembangan perusahaan.[19]

Outsourcing (Alih Daya) untuk meraih keunggulan kompetitif ini dapat dilihat pada industri-industri mobil besar di dunia seperti Nissan, Toyota dan Honda. Pada awalnya dalam proses produksi mobil, core business nya terdiri dari pembuatan desain, pembuatan suku cadang dan perakitan. Pada akhirnya yang menjadi core business hanyalah pembuatan desain mobil sementara pembuatan suku cadang dan perakitan diserahkan pada perusahaan lain yang lebih kompeten, sehingga perusahaan mobil tersebut bisa meraih keunggulan kompetitif.[20]

Dalam hal outsourcing (Alih Daya) yang berupa penyediaan pekerja, dapat dilihat pada perkembangannya saat ini di Indonesia, perusahaan besar seperti Citibank banyak melakukan outsource untuk tenaga-tenaga ahli[21], sehingga interpretasi outsource tidak lagi hanya sekadar untuk melakukan aktivitas-aktivitas penunjang seperti yang didefinisikan dalam penjelasan UU No.13 tahun 2003. Untuk itu batasan pengertian core business perlu disamakan lagi interpretasinya oleh berbagai kalangan. Pengaturan lebih lanjut untuk hal-hal semacam ini belum diakomodir oleh peraturan ketenagakerjaan di Indonesia.

Perusahaan dalam melakukan perencanaan untuk melakukan outsourcing terhadap tenaga kerjanya, mengklasifikasikan pekerjaan utama dan pekerjaan penunjang ke dalam suatu dokumen tertulis dan kemudian melaporkannya kepada instansi ketenagakerjaan setempat.[22]

Pembuatan dokumen tertulis penting bagi penerapan outsourcing di perusahaan, karena alasan-alasan sebagai berikut :
1. Sebagai bentuk kepatuhan perusahaan terhadap ketentuan tentang ketenagakerjaan dengan melakukan pelaporan kepada Dinas Tenaga Kerja setempat;
2. Sebagai pedoman bagi manajemen dalam melaksanakan outsourcing pada bagian-bagian tertentu di perusahaan;
3. Sebagai sarana sosialisasi kepada pihak pekerja tentang bagian-bagian mana saja di perusahaan yang dilakukan outsourcing terhadap pekerjanya;
4. Meminimalkan risiko perselisihan dengan pekerja, serikat pekerja, pemerintah serta pemegang saham mengenai keabsahan dan pengaturan tentang outsourcing di Perusahaan.
V. Perjanjian dalam Outsourcing

Hubungan kerjasama antara Perusahaan outsourcing dengan perusahaan pengguna jasa outsourcing tentunya diikat dengan suatu perjanjian tertulis. Perjanjian dalam outsourcing (Alih Daya) dapat berbentuk perjanjian pemborongan pekerjaan atau perjanjian penyediaan jasa pekerja/buruh. Perjanjian-perjanjian yang dibuat oleh para pihak harus memenuhi syarat sah perjanjian seperti yang tercantum dalam pasal 1320 KUH Perdata, yaitu:
1. Sepakat, bagi para pihak;
2. Kecakapan para pihak untuk membuat suatu perikatan;
3. Suatu hal tertentu;
4. Sebab yang halal.
Perjanjian dalam outsourcing (Alih Daya) juga tidak semata-mata hanya mendasarkan pada asas kebebasan berkontrak sesuai pasal 1338 KUH Perdata, namun juga harus memenuhi ketentuan ketenagakerjaan, yaitu UU No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

Dalam penyediaan jasa pekerja, ada 2 tahapan perjanjian yang dilalui yaitu:
1. Perjanjian antara perusahaan pemberi pekerjaan dengan perusahaan penyedia pekerja/buruh ;

Perusahaan dapat menyerahkan sebagian pekerjaan kepada perusahaan lain melalui perjanjian pemborongan pekerjaan atau perjanjian penyediaan jasa pekerja yang dibuat secara tertulis. Pekerjaan yang dapat diserahkan kepada perusahaan lain harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :[23]
a. dilakukan secara terpisah dari kegiatan utama;
b. dilakukan dengan perintah langsung atau tidak langsung dari pemberi pekerjaan;
c. merupakakan kegiatan penunjang perusahaan secara keseluruhan;
d. tidak menghambat proses produksi secara langsung.

Dalam hal penempatan pekerja/buruh maka perusahaan pengguna jasa pekerja akan membayar sejumlah dana (management fee) pada perusahaan penyedia pekerja/buruh.

2. perjanjian perusahaan penyedia pekerja/buruh dengan karyawan
Penyediaan jasa pekerja atau buruh untuk kegiatan penunjang perusahaan hatus memenuhi syarat sebagai berikut :[24]

a. adanya hubungan kerja antara pekerja atau buruh dan perusahaan penyedia jasa pekerja atau buruh;
b. perjanjian kerja yang berlaku dalam hubungan kerja adalah perjanjian kerja untuk waktu tertentu yang memenuhi persyaratan dan atau perjanjian kerja waktu tidak tertentu yang dibuat secara tertulis dan ditandatangani oleh kedua pihak;
c. perlindungan usaha dan kesejahteraan, syarat-syarat kerja maupun perselisihan yang timbul menjadi tanggung jawab perusahaan penyedia jasa pekerja/buruh.
Dengan adanya 2 (dua) perjanjian tersebut maka walaupun karyawan sehari-hari bekerja di perusahaan pemberi pekerjaan namun ia tetap berstatus sebagai karyawan perusahaan penyedia pekerja. Pemenuhan hak-hak karyawan seperti perlindungan upah dan kesejahteraan, syarat-syarat kerja serta perselisihan yang timbul tetap merupakan tanggung jawab perusahaan penyedia jasa pekerja.
Perjanjian kerja antara karyawan dengan perusahaan outsourcing (Alih Daya) dapat berupa Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) maupun Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu (PKWTT)[25].
Perjanjian kerja antara karyawan outsourcing dengan perusahaan outsourcing biasanya mengikuti jangka waktu perjanjian kerjasama antara perusahaan outsourcing dengan perusahaan pengguna jasa outsourcing. Hal ini dimaksudkan apabila perusahaan pengguna jasa outsourcing hendak mengakhiri kerjasamanya dengan perusahaan outsourcing, maka pada waktu yang bersamaan berakhir pula kontrak kerja antara karyawan dengan perusahaan outsource. Bentuk perjanjian kerja yang lazim digunakan dalam outsourcing adalah Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT). Bentuk perjanjian kerja ini dipandang cukup fleksibel bagi perusahaan pengguna jasa outsourcing, karena lingkup pekerjaannya yang berubah-ubah sesuai dengan perkembangan perusahaan.
Karyawan outsourcing walaupun secara organisasi berada di bawah perusahaan outsourcing, namun pada saat rekruitment, karyawan tersebut harus mendapatkan persetujuan dari pihak perusahaan pengguna outsourcing. Apabila perjanjian kerjasama antara perusahaan outsourcing dengan perusahaan pengguna jasa outsourcing berakhir, maka berakhir juga perjanjian kerja antara perusahaan outsourcing dengan karyawannya.

VI. Hubungan Hukum antara Karyawan Outsourcing (Alih Daya) dengan Perusahaan Pengguna Outsourcing

Hubungan hukum Perusahaan Outsourcing (Alih Daya) dengan perusahaan pengguna outsourcing (Alih Daya) diikat dengan menggunakan Perjanjian Kerjasama, dalam hal penyediaan dan pengelolaan pekerja pada bidang-bidang tertentu yang ditempatkan dan bekerja pada perusahaan pengguna outsourcing. Karyawan outsourcing (Alih Daya) menandatandatangani perjanjian kerja dengan perusahaan outsourcing (Alih Daya) sebagai dasar hubungan ketenagakerjaannya. Dalam perjanjian kerja tersebut disebutkan bahwa karyawan ditempatkan dan bekerja di perusahaan pengguna outsourcing.

Dari hubungan kerja ini timbul suatu permasalahan hukum, karyawan outsourcing (Alih Daya) dalam penempatannya pada perusahaan pengguna outsourcing (Alih Daya) harus tunduk pada Peraturan Perusahaan (PP) atau Perjanjian Kerja Bersama (PKB) yang berlaku pada perusahaan pengguna oustourcing tersebut, sementara secara hukum tidak ada hubungan kerja antara keduanya.

Hal yang mendasari mengapa karyawan outsourcing (Alih Daya) harus tunduk pada peraturan perusahaan pemberi kerja adalah :[26]
1. Karyawan tersebut bekerja di tempat/lokasi perusahaan pemberi kerja;
2. Standard Operational Procedures (SOP) atau aturan kerja perusahaan pemberi kerja harus dilaksanakan oleh karyawan, dimana semua hal itu tercantum dalam peraturan perusahaan pemberi kerja;
3. Bukti tunduknya karyawan adalah pada Memorandum of Understanding (MoU) antara perusahaan outsource dengan perusahaan pemberi kerja, dalam hal yang menyangkut norma-norma kerja, waktu kerja dan aturan kerja. Untuk benefit dan tunjangan biasanya menginduk perusahaan outsource.
Dalam hal terjadi pelanggaran yang dilakukan pekerja, dalam hal ini tidak ada kewenangan dari perusahaan pengguna jasa pekerja untuk melakukan penyelesaian sengketa karena antara perusahaan pengguna jasa pekerja (user) dengan karyawan outsource secara hukum tidak mempunyai hubungan kerja, sehingga yang berwenang untuk menyelesaikan perselisihan tersebut adalah perusahaan penyedia jasa pekerja, walaupun peraturan yang dilanggar adalah peraturan perusahaan pengguna jasa pekerja (user).

Peraturan perusahaan berisi tentang hak dan kewajiban antara perusahaan dengan karyawan outsourcing. Hak dan kewajiban menggambarkan suatu hubungan hukum antara pekerja dengan perusahaan, dimana kedua pihak tersebut sama-sama terikat perjanjian kerja yang disepakati bersama. Sedangkan hubungan hukum yang ada adalah antara perusahaan Outsourcing (Alih Daya) dengan perusahaan pengguna jasa, berupa perjanjian penyediaan pekerja. Perusahaan pengguna jasa pekerja dengan karyawan tidak memiliki hubungan kerja secara langsung, baik dalam bentuk perjanjian kerja waktu tertentu maupun perjanjian kerja waktu tidak tertentu.

Apabila ditinjau dari terminologi hakikat pelaksanaan Peraturan Perusahaan, maka peraturan perusahaan dari perusahaan pengguna jasa tidak dapat diterapkan untuk karyawan outsourcing (Alih Daya) karena tidak adanya hubungan kerja. Hubungan kerja yang terjadi adalah hubungan kerja antara karyawan outsourcing (Alih Daya) dengan perusahaan outsourcing, sehingga seharusnya karyawan outsourcing (Alih Daya) menggunakan peraturan perusahaan outsourcing, bukan peraturan perusahaan pengguna jasa pekerja.

Karyawan outsourcing yang ditempatkan di perusahaan pengguna outsourcing tentunya secara aturan kerja dan disiplin kerja harus mengikuti ketentuan yang berlaku pada perusahaan pengguna outsourcing. Dalam perjanjian kerjasama antara perusahaan outsourcing dengan perusahaan pengguna outsourcing harus jelas di awal, tentang ketentuan apa saja yang harus ditaati oleh karyawan outsourcing selama ditempatkan pada perusahaan pengguna outsourcing. Hal-hal yang tercantum dalam peraturan perusahaan pengguna outsourcing sebaiknya tidak diasumsikan untuk dilaksanakan secara total oleh karyawan outsourcing.
Misalkan masalah benefit, tentunya ada perbedaan antara karyawan outsourcing dengan karyawan pada perusahaan pengguna outsourcing. Hal-hal yang terdapat pada Peraturan Perusahaan yang disepakati untuk ditaati, disosialisasikan kepada karyawan outsourcing oleh perusahaan outsourcing. Sosialisasi ini penting untuk meminimalkan tuntutan dari karyawan outsourcing yang menuntut dijadikan karyawan tetap pada perusahaan pengguna jasa outsourcing, dikarenakan kurangnya informasi tentang hubungan hukum antara karyawan dengan perusahaan pengguna outsourcing.

Perbedaan pemahaman tesebut pernah terjadi pada PT Toyota Astra Motor, salah satu produsen mobil di Indonesia. Dimana karyawan outsourcing khusus pembuat jok mobil Toyota melakukan unjuk rasa serta mogok kerja untuk menuntut dijadikan karyawan PT Toyota Astra Motor. Hal ini dikarenakan kurangnya sosialisasi mengenai status hubungan hukum mereka dengan PT Toyota Astra Motor selaku perusahaan pengguna outsourcing.[27]

VII. Penyelesaian Perselisihan dalam Outsourcing (Alih Daya)

Dalam pelaksanaan outsourcing (Alih Daya) berbagai potensi perselisihan mungkin timbul, misalnya berupa pelanggaran peraturan perusahaan oleh karyawan maupun adanya perselisihan antara karyawan outsource dengan karyawan lainnya. Menurut pasal 66 ayat (2) huruf c UU No.13 Tahun 2003, penyelesaian perselisihan yang timbul menjadi tanggung jawab perusahaan penyedia jasa pekerja. Jadi walaupun yang dilanggar oleh karyawan outsource adalah peraturan perusahaan pemberi pekerjaan, yang berwenang menyelesaikan perselisihan tersebut adalah perusahaan penyedia jasa pekerja.

Dalam hal ini perusahaan outsource harus bisa menempatkan diri dan bersikap bijaksana agar bisa mengakomodir kepentingan karyawan, maupun perusahaan pengguna jasa pekerja, mengingat perusahaan pengguna jasa pekerja sebenarnya adalah pihak yang lebih mengetahui keseharian performa karyawan, daripada perusahaan outsource itu sendiri. Ada baiknya perusahaan outsource secara berkala mengirim pewakilannya untuk memantau para karyawannya di perusahaan pengguna jasa pekerja sehingga potensi konflik bisa dihindari dan performa kerja karyawan bisa terpantau dengan baik.

VIII. Kesimpulan

Outsourcing (Alih daya) sebagai suatu penyediaan tenaga kerja oleh pihak lain dilakukan dengan terlebih dahulu memisahkan antara pekerjaan utama (core business) dengan pekerjaan penunjang perusahaan (non core business) dalam suatu dokumen tertulis yang disusun oleh manajemen perusahaan. Dalam melakukan outsourcing perusahaan pengguna jasa outsourcing bekerjasama dengan perusahaan outsourcing, dimana hubungan hukumnya diwujudkan dalam suatu perjanjian kerjasama yang memuat antara lain tentang jangka waktu perjanjian serta bidang-bidang apa saja yang merupakan bentuk kerjasama outsourcing. Karyawan outsourcing menandatangani perjanjian kerja dengan perusahaan outsourcing untuk ditempatkan di perusahaan pengguna outsourcing.
Karyawan outsourcing selama ditempatkan diperusahaan pengguna jasa outsourcing wajib mentaati ketentuan kerja yang berlaku pada perusahaan outsourcing, dimana hal itu harus dicantumkan dalam perjanjian kerjasama. Mekanisme Penyelesaian perselisihan ketenagakerjaan diselesaikan secara internal antara perusahaan outsourcing dengan perusahaan pengguna jasa outsourcing, dimana perusahaan outsourcing seharusnya mengadakan pertemuan berkala dengan karyawannya untuk membahas masalah-masalah ketenagakerjaan yang terjadi dalam pelaksanaan outsourcing.

Dewasa ini outsourcing sudah menjadi trend dan kebutuhan dalam dunia usaha, namun pengaturannya masih belum memadai. Sedapat mungkin segala kekurangan pengaturan outsourcing dapat termuat dalam revisi UU Ketenagakerjaan yang sedang dipersiapkan dan peraturan pelaksanaanya, sehingga dapat mengakomodir kepentingan pengusaha dan melindungi kepentingan pekerja.

***
Ucapan terima kasih disampaikan kepada Chandra K. yang telah memberikan sumbangan pemikiran yang sangat berharga melalui artikel yang telah ditulisnya di atas.

Catatan Kaki:

[1] Wirawan, Rubrik Hukum Teropong,Apa yang dimaksud dengan sistem outsourcing?, http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0504/31/teropong/komenhukum.htm

[2] ibid

[3] Artikel “Outsource dipandang dari sudut perusahaan pemberi kerja”, http://www.apindo.or.id, diakses tanggal 4 Agustus 2006

[4] Pasal 64 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 TentangKetenagakerjaan,

[5] Paket Kebijakan Perbaikan Iklim Investasi memuat hal-hal yang dituntut untuk dilakukan revisi dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 yaitu : Pemutusan Hubungan Kerjam Perjanjian kerja Waktu Tertentu, Perhitungan Pesangon, Ijin tenaga Kerja Asing dan istirahat panjang.

[6] Nur Cahyo, Pengalihan Pekerjaan Penunjang perusahaan dengan Sistem Outsourcing (Alih Daya) Menurut Undang-undang No. 13 tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan (Studi Kasus pada Asuransi Astra Buana), Tesis Magister Hukum FHUI, Depok, 2006, hal.56.

[7] Terkutip dalam Nur Cahyo, ibid., hal 57.

[8] Chandra Suwondo, Outsourcing; Implementasi di Indonesia, Elex Media Computindo, Jakarta, hal 2.

[9] Muzni Tambusai, Pelaksanaan Outsourcing (Alih Daya) ditinjau dari aspek hukum ketenagakerjaan tidak mengaburkan hubungan industrial, http://www.nakertrans.go.id/arsip berita/naker/outsourcing.php. 29 Mei 2005.

[10] Tulisan ini mengkhususkan membahas outsourcing (Alih Daya) yang berupa penyediaan jasa pekerja/buruh, sedang outsourcing (Alih Daya) berupa pemborongan pekerjaan hanya akan diulas sekilas dari segi definisi, dan dalam kaitan dengan core business. Dalam UU No.13 Tahun 2003, istilah outsourcing (Alih Daya) dapat diartikan sebagai pemborongan pekerjaan dan penyediaan tenaga kerja, namun pada rancangan UU Tenaga Kerja yang baru (yang kini sedang dikaji ulang), pengertian outsourcing (Alih Daya) tampaknya akan disempitkan menjadi penyediaan jasa pekerja, sementara pemborongan pekerjaan ldiartikan sebagai sub-kontrak.

[11] Draft Revisi Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, diakses dari Sabar Sianturi, pembicara pada Seminar tentang Outsourcing (Alih Daya) dan Permasalahannya, 12 April 2006, Hotel Aryaduta, diselenggarakan oleh PPM.

[12] Pasal 66 ayat (1) UU No.13 tahun 2003
[13] Pasal 66 ayat (2) UU No.13 Tahun 2003

[14] Pasal 66 ayat (3) UU No.13 Tahun 2003

[15] Pasal 66 ayat (4) UU No.13 Tahun 2003

[16] R.Djokopranoto, Outsourcing (Alih Daya) dalam No.13/2003 tentang Ketenagakerjaan (Perspektif Pengusaha), Materi Seminar disampaikan pada Seminar Outsourcing: Process and Mangement, World Trade Center Jakarta,13-14 oktober 2005, hal.5.

[17] Ibid., hal.6.

[18] Ibid., hal 7.

[19] Ibid., hal.8

[20] Ibid., hal.5

[21] Berdasarkan informasi dari Bapak Ali Nursal, General Manager PT.Outsourcing (Alih Daya) Indonesia

[22] Pelaporan dokumen tentang pekerjaan utama dan pekerjaan penunjang diatur pada Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor : 220/MEN/X/2004 Tentang Syarat-Syarat Penyerahan Sebagian Pelaksanaan Pekerjaan Kepada Perusahaan Lain.

[23] Pasal 65 ayat (2) UU No.13 tahun 2003

[24] Pasal 66 ayat 2) butir a,b dan c UU No.13 tahun 2003

[25] Mengenai PKWT dan PKWTT lihat pasal 56-60 UU No.13 Tahun 2003

[27] Berdasarkan informasi dari Bpk. Yayan Hernayanto, Corporate Legal, PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia, 4 Agustus 2006.





















HYPNOSIS #4: DZIKIR DAN FENOMENA HYPNOSIS
23 April 2007
Asep Haerul Gani

a. Dzikir
Dzikir dalam bahasa Arab artinya mengingat. Dzikir secara istilah adalah semua ucapan, pikiran , perasaan dan gerak laku yang tertuju pada mengingat Allah.
Dzikir dalam Islam memiliki kedudukan penting . Syukurnya seorang hamba dinyatakan dalam dzikir. Ingkarnya seorang hamba ditengarai dengan tiadanya dzikir.
Shalat yang merupakan mi'rajnya kaum mu'minin dilakukan dalam rangka dzikir. Shalat dapat mencegah manusia dari perbuatan keji dan mungkar. Karena shalat itu untuk berdzikir, maka dapat disimpulkan bahwa dzikir selain bermanfaat diperolehnya kedamaian dan ketentraman jiwa sekaligus juga mencegah manusia dari perbuatan sia-sia dan perilaku yang merugikan sesama.
Dzikir banyak ragamnya.
Ada dzikir dengan lisan, yaitu bibir basah menyuarakan nama "Allah", menyebutkan sifat " Ar Rahman , Ar Rahim , Al Malik , Al Quddus " dan menyebutkan perbuatannya " Alhamdu Lillahi Robbil 'alamin". Dzikir yang teramati seperti ini biasa disebut juga Dzikir Jahar atau Dzikir kentara. Kentara, karena terdengar oleh telinga, terlihat oleh mata.
Ada pula dzikir yang dilakukan dengan hati. Pendzikir menutup matanya, mengatupkan lidahnya, menahan nafasnya, dan memberikan kesempatan hatinya menjeritkan nama Allah. Dzikir seperti ini nyaris tersembunyi, tak teraba tak kentara. Dzikir seperti ini disebut sebagai Dzikir Khofiy.
Dzikir banyak pula metodenya.
Ada Dzikir yang disajikan dengan cara menyuarakan kata atau kalimat tertentu.
Ada Dzikir yang disajikan dengan cara menyuarakan kata Allah sambil membuang nafas dan menyuarakan Allah sambil menghirup nafas
Ada Dzikir yang disajikan dengan cara menyuarakan kalimat Laa Ilaaha IllaLlah sambil menggerakkan kepala dengan posisi duduk bersila.
Ada Dzikir yang disajikan dengan cara sambil berdiri, duduk dan berbaring
Ada Dzikir yang disajikan dengan cara berputar seperti menari
b. Fenomena Hypnosis pada orang yang berdzikir
Dzikir bercirikan pengulangan . Baik pengulangan kata, kalimat dan juga gerak. Pada saat pengulangan dilakukan maka tercipta kata-kata ber-rima, gerak berirama. Semakin sering kata dan gerak diulang, maka kata dan gerak semakin ritmis dan membuat sang pendzikir semakin fokus, nafas semakin teratur, tubuh semakin peka dan perasaan tenang semakin tercapai. Keadaan ini dalam hypnosis dinamakan TRANCE.
Kerapkali di majlis dzikir terlihat saat para pendzikir terlibat masuk ke dalam dzikirnya, ada yang tubuhnya perlahan berdiri dari duduk kemudian tubuhnya bergoyang (dalam diri si subyek ia merasa sedang duduk), tangan menjadi kataleptik perlahan-lahan mengangkat kaku, bahkan ada pula yang mencapai kesadaran tingkat tinggi.
Dzikir dapat dipandang sebagai INDUKSI membawa para pendzikir ke keadaan tenang, keadaan alpha bahkan tetha. Dzikir dapat pula dipandang sebagai INDUKSI sekaligus SUGESTI karena pada saat alpha dan tetha tersebut ada pembelajaran-pembelajaran yang ditanamkan berupa DO'A . Do'a bentuknya adalah Affirmasi. Affirmasi akan menempel baik bila dinyatakan berulang-ulang, dalam keadaan yang fokus dan pada alpha/tetha state.
Dalam sejumlah riwayat, Sebelum laskar Aceh , laskar Banten, laskar Demak berperang mereka berdzikir terlebih dahulu dan setelah dzikir merasuk ke ruh dan seluruh tubuh, mereka mendapatkan penanaman pembelajaran sikap maju terus pantang mundur. Berani Hidup tak takut mati, hingga penjajah mampu diusir dari nusantara.
c. Pemanfaatan Dzikir untuk perbaikan diri
Kaum Muslim yang telah terbiasa melakukan dzikir dapat mengambil banyak manfaat dari Dzikir. Pertama kali yang perlu dilakukan adalah membuat tombol pemicu dzikir. Caranya dapat dilakukan saat ia berdzikir dan mendapatkan keadaan yang paling tentram buatlah pemicu. Pemicu bisa dalam bentuk gerakkan misalnya menjentik jari. Pemicu bisa dalam bentuk visual misalnya membayangkan tulisan Allah. Pemicu bisa juga dalam bentuk pendengaran misalnya mendengar lapadz Allah.
Pada saat Anda resah, gelisah, kesal, gundah, marah tekan tombol pemicu ke keadaan Dzikir Anda. Bila Anda telah terlatih, saat kapanpun Anda picu, secara otomatis keadaan tentram , tenang akan tampil dalam diri Anda.
Seorang hypnotherapis yang mengetahui kliennya sebagai Ahli Dzikr lebih mudah membantu kliennya menemukan solusi. Sang terapis cukup memanfaatkan keadaan tentram yang diperoleh kliennya dalam berdzikir sebagai INDUKSI. Setelah klien memberi tanda bahwa ia telah masuk ke keadaan tentram dalam dzikir. Terapis dapat melanjutkannya dengan memberikan SUGESTI atau PEMBELAJARAN kepada kliennya. Dari pengalaman saya, cara ini justru lebih cepat masuk ke Trance yang dalam bila dibandingkan dengan penggunaan Induksi dengan cara biasa.
Pun Sapun Ampun Paralun
Pakena Gawe Rahayu, Sangkan Nanjung Di Juritan, Nanjeur Di Buana
Salam hangat dari Ciwandan, Cilegon
Asep Haerul Gani

TERAPI FOBIA INSTAN : KEAJAIBAN PIKIRAN, BUKAN KEAJAIBAN NLP/HIPNOSIS
04 Maret 2007
Ronny F. Ronodirdjo

Pertengahan tahun 2005, pada saat istirahat siang hari di tengah suatu pelatihan Hypnotic Selling Skill di Sumatra, ada seorang peserta menghampiri saya dan bertanya “Bisakah menyembuhkan fobia Bahasa Inggris saya?”. Saya amati yang bertanya adalah seorang pemuda kurus bertampang Jawa dan ia adalah salah satu frontliner di perusahaan distribusi.
Saya tertarik untuk mengetahui apa yang dimaksudnya dengan fobia bahasa Inggris. Seperti diketahui, dalam bahasa awam, seringkali orang mencampur adukkan antara kata takut (afraid), ngeri (fear), jijik, atau cemas (anxiety) dengan fobia. Beberapa orang yang pernah datang ke saya menyatakan fobia pada kecoa, namun setelah proses klarifikasi, terungkap ternyata hanyalah jijik. Fobia adalah suatu reaksi berlebihan tak terkontrol yang cenderung spontan pada seseorang saat ia melihat / mendengar / merasakan / memikirkan sesuatu, dan biasanya obyek fobia itu secara normal bukanlah sesuatu yang menakutkan.
Kami kemudian terlibat diskusi, dan fokus pertanyaan saya padanya adalah, “Apakah Anda sungguh-sungguh ingin menghilangkan fobia itu?”. Dia menyatakan bahwa fobia bahasa Inggrisnya sudah menghambat kariernya selama bertahun-tahun.
Setelah berbincang santai, terungkap bahwa ternyata yang dimaksudkan dengan fobia bahasa Inggris adalah setiap kali ada orang yang mengajaknya berbicara berbahasa Inggris atau bertampang bule, maka ia segera merasa tak berdaya dan seperti orang yang gagu. Dengan demikian berarti benar bahwa ia mengalami fobia terhadap kata-kata bahasa Inggris. Satu fenomena yang menarik bagi saya.
Pembicaraan saya lanjutkan dengan bertanya, apakah anda tahu penyebab awal fobia Anda, dan ia menjawab bahwa ia tahu. Saat ia hendak bercerita mengenai sebab itu, saya katakan padanya bahwa ia tidak perlu menceritakannya, cukup bagi saya tahu bahwa ia mengerti dan ingat penyebab fobia itu. Saya katakan padanya bahwa saat terapi nanti, saya hanya akan katakan “peristiwa penyebab itu”.
Di sinilah salah satu keunikan terapi berbasis NLP, seorang praktisi NLP yang berpengalaman akan sejauh mungkin menghindarkan diri bertanya mengenai content peristiwa itu dan fokus pada context dari suatu penyimpangan psikologis. Berbeda dengan sistem terapi lain yang senang menanyakan mengenai sebab suatu penyimpangan, bahkan secara mendetail menggali sebab-sebab itu.
Pertanyaan mengenai content apalagi yang mendetail, hanya akan memperlemah kondisi mental subjek tersebut. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini akan membawa subjek kembali pada kondisi dis-empower sehingga mempersulit proses terapi, karena dalam proses terapi justru kita membutuhkan subjek berada dalam kondisi pikiran yang optimal (empower). Selain itu, pertanyaan mengenai content akan membawa subyek “terpaksa” mengingat sekali lagi secara mendetail memori itu sehingga cendeung akan memperkuat ikatan asosiatif dalam neurologisnya.
Lantas saya minta ijin padanya untuk melakukan proses terapi di depan kawan-kawannya yang lain secara live, supaya bisa menjadi bagian dari pembelajaran bersama. Sungguh beruntung, di sini subjek tidak keberatan dengan permintaan saya.
Kali ini saya mengabungkan hipnoterapi dan teknik NLP secara simultan. Prosesnya dengan cara melakukan induksi hipnotik instan pada klien dengan teknik Dave Elman, kemudian diikuti dengan teknik NLP fast phobia cure (teknik melihat film di bioskop). Pertimbangan saya mengkombinasikan NLP dengan hipnotik adalah bisa menghasilkan efek instan yang luar biasa mengingat waktu yang tersedia terbatas, dan sekaligus bisa memberikan bukti yang kuat pada audiens bahwa efeknya langsung terlihat.
Setelah subjek masuk ke light trance, kemudian dibimbing untuk mengingat (mengakses kembali) memori yang punya kekuatan positif kuat, misal rasa PD luar biasa, rasa aman, rasa powerful, dll. Saat subjek mencapai peak state, lantas di anchor secara kinestetik. Kemudian dilakukan pengujian anchor ini untuk memastikan sudah bekerja dengan baik dengan cara memicunya (fire the anchor).
Berikutnya dilakukan terapi NLP fast phobia cure, dengan memintanya membayangkan berada di sebuah bioskop, duduk di salah satu kursi yang paling nyaman sambil memandang layar yang putih. Kemudian setahap demi setahap dibimbing sampai proses selesai. Selama proses, harus terus dilakukan kalibrasi (pengamatan fisiologis yang mendetail) untuk memastikan bahwa subjek berada dalam kondisi yang tepat.
Begitu selesai, saya melakukan future pacing dengan cara memberikan post hypnotic suggestion untuk memastikan respon subyek di masa yang akan datang terhadap stimulus itu. Lantas subyek dibimbing keluar dari kondisi trance kepada kondisi waking state lagi.
Sungguh menarik, sejurus kemudian kami mengajaknya berbincang dalam bahasa Inggris dengan pertanyaan sederhana seperti “What is your name?”, “Where do you come from?” dan “How old are you?”. Meledak tepuk tangan peserta yang lain saat menjadi saksi bahwa subjek sama sekali tidak terlihat takut, gugup atau down. Ekspresi yang ditunjukkannya adalah ekspresi berpikir seperti tengah mengingat-ingat bagaimana harus menjawab dalam bahasa Inggris. Secara tata bahasa jawaban masih salah, namun intinya dia mengerti dengan benar maksud pertanyaan itu dan jawaban apa yang diinginkan.

“My name Agus (samaran)”
“From Pangkal Pinang”
“Twenty Four”
Saat pulang, ia menghampiri saya lagi untuk berterima kasih, sambil bercerita bahwa penyebab fobia pada bahasa Inggris karena dulu ibunya mengebuki dengan cambuk sepulang dari sekolah karena ia mendapat nilai 4 saat ujian bahasa Inggris. Setengah bingung ia bertanya, “Anda tidak menasehati atau menceramahi saya apapun, bahkan peristiwa digebukin ortu juga masih dapat saya ingat dengan baik, namun kenapa rasa takut, down dan efek gagu sudah tidak datang lagi?”.
Ingin saya menyatakan berbagai presuposisi NLP padanya “The map is not the teritory”, “People respond according to their map of the world”, “Every behavior have a positive intention”, dan “The mind and the body are interlinked and affect each other”. Namun saya memilih mengatakan secara sederhana “Itulah keajaiban dari pikiran kita”.
Demikianlah, sekali lagi hari itu kami semua menjadi saksi keajaiban pikiran manusia. Bukan NLP yang ajaib, bukan hipnotis yang ajaib, pikiran kitalah yang ajaib. Selama ini kita cuma belum tahu kunci kombinasinya untuk membuka keajaiban itu. NLP dan hipnotis adalah kunci untuk mengakses keajaiban dari otak dan pikiran kita. (RFR)

SEJARAH RINGKAS NLP
19 Pebruari 2007
Achmad Sjahid

Catatan sejarah NLP (Neuro Linguistic Programming) bermula di California pada awal 1972 ketika Richard Bandler, mahasiswa University of Santa Cruz bersepakat dengan John Grinder, profesor bahasa, untuk mempelajari kesempurnaan keterampilan berkomunikasi.
Kesempurnaan ini ditampilkan oleh beberapa orang yang terbukti mampu menyembuhkan klien yang tergolong “orang sulit” (atau bagi kebanyakan orang sudah layak disebut sebagai “mustahil”). Orang-orang yang terbukti mampu dan kemudian dijadikan model adalah:
• Virginia Satir, yang mengembangkan Conjoint Family Therapy.
• Fritz Perls, yang mendirikan aliran Gestalt Psychology.
• Milton H. Erickson, yang mengembangkan Clinical Hypnotherapy.
Bandler dan Grinder menemukan bahwa meskipun ketiga orang itu berbeda gaya dan kepribadian, ternyata ada pola yang sama dalam melakukan komunikasi. Pola itu memungkinkan ketiga orang tersebut mencapai kesempurnaan teknik komunikasi di bidang masing-masing.
Bandler & Grinder lebih jauh mencermati jika benar yang terjadi demikian, tentunya pola yang sama bisa dipakai untuk mencapai kesempurnaan di bidang lain. Hasil penelitian terhadap ketiga orang ini menjadi bahan baku bagi NLP. Selanjutnya Bandler dan Grinder memperkaya NLP dengan menyerap masukan dari:
• Alfred Korzybski, ahli lingustic, tentang mental map.
• Noam Chomsky, ahli linguistic, tentang deep & surface structure.
• Gregory Bateson, ahli antropologi, tentang logical level.
NLP yang dikembangkan oleh 2 orang kini mencakup beberapa aliran, ratusan buku dan ribuan program pelatihan maupun seminar. NLP tidak hanya dipakai untuk keperluan terapetis, melainkan meluas pada berbagai disiplin di berbagai negara di dunia. Aplikasinya beragam mulai dari menghentikan kebiasaan buruk hingga menguasai gerakan senam, mulai dari rekrutmen pramugari sampai pelatihan sniper.


APAKAH HIPNOSIS/HIPNOTERAPI BERBAHAYA?
12 Maret 2007
Adi W. Gunawan

“With great power comes great responsibility”
Sebelum menjelaskan lebih lanjut saya ingin kita menyamakan dulu persepsi kita mengenai hipnosis, agar kita bisa berpikir dan berdiskusi dengan koridor pikir yang sama.
Selama ini telah terjadi kerancuan makna atau salah pemahaman mengenai hipnosis. Hipnosis telah dipersepsikan secara keliru sebagai klenik atau magic. Lalu apa sih sebenarnya hipnosis? Seperti yang saya jelaskan di buku saya Hypnosis: The Art of Subconscious Communication, hipnosis sebenarnya tidak lebih dari seni berkomunikasi. Lebih lengkap lagi hipnosis adalah seni berkomunikasi dengan penekanan pada aspek dan proses komunikasi timbal balik antara satu atau lebih orang yang terjadi pada level pikiran bawah sadar.
Dari definisi di atas tampak jelas bahwa hipnosis sama sekali tidak ada hubungannya dengan ilmu sesat, magic, atau kekuatan supra natural. Dengan mengacu pada definisi hipnosis yang telah kita sepakati di atas, mari kita mulai diskusi kita.
Kerancuan makna juga sering tampak dari berbagai tulisan di media massa atau internet. Saya sempat membaca iklan di surat kabar atau cerita di milis, kebetulan saat itu lagi membahas topik mengenai hipnosis/hipnoterapi, yang mencampuradukkan antara hipnosis dan hipnotis.
Hipnosis adalah ilmu atau seni komunikasi sedangkan hipnotis adalah orang yang menggunakan atau mempraktikkan hipnosis. Lalu apa beda antara hipnosis dan hipnoterapi?
Semua hipnoterapi menggunakan hipnosis. Namun, hipnosis baru bisa dikatakan sebagai hipnoterapi apabila menggunakan teknik-teknik tertentu, yang bersifat terapeutik, untuk membantu klien meningkatkan diri mereka, sesuai dengan masalah yang dihadapi.
Hipnoterapis, dengan demikian, adalah orang yang menggunakan atau mempraktikkan hipnoterapi. Hipnoterapis pasti adalah seorang hipnotis. Namun hipnotis belum tentu hipnoterapis.
Kembali pada pertanyaan di atas, “Apakah hipnosis/hipnoterapi berbahaya?”.
Hipnosis adalah salah satu cara yang sangat efektif untuk bisa menjangkau pikiran bawah sadar dengan cepat dan mudah. Perubahan perilaku selama ini cukup sulit dilakukan karena orang, pada umumnya, tidak mengerti cara masuk ke pikiran bawah sadar yang menyimpan berbagai “program” yang mengendalikan diri kita.
Ada lima cara untuk masuk ke pikiran bawah sadar:
1. Repetisi
2. Identifikasi kelompok atau keluarga
3. Informasi yang disampaikan oleh figur yang dipandang mempunyai otoritas
4. Emosi yang intens
5. Kondisi alfa atau hipnosis
Dengan menggunakan bantuan hipnosis seorang hipnotis atau hipnoterapis dapat dengan mudah masuk ke pikiran bawah sadar klien dan melakukan otak-atik “program”. Akibatnya bisa macam-macam. Bisa positif maupun negatif. Modifikasi atau rekonstruksi “program” pikiran ini selanjutnya akan mempengaruhi perilaku seseorang dan sebagai hasil akhir sudah tentu hidup orang juga akan berubah.
Contohnya begini. Anda bertemu dengan seseorang, sebut saja Budi, yang tidak bisa menjual dengan baik. Padahal Budi bekerja di bidang marketing dan sales. Kesulitan Budi disebabkan oleh belief-nya yang menyatakan bahwa ia tidak cakap dalam hal penjualan.
Dengan pengetahuan dan kemampuan yang anda miliki, anda bisa masuk ke pikiran bawah sadar Budi dan memodifikasi ”program” (belief) yang menghambat Budi. Setelah ”program”nya dimodifikasi Budi akhirnya mampu menjadi seorang salesman handal. Nah, dalam hal ini hipnosis/hipnoterapi mengakibatkan suatu efek yang sangat positif.
Untuk lebih jelas mengenai teknik terapi yang digunakan dalam hipnoterapi anda bisa membaca buku saya Hypnotherapy : The Art of Subconscious Restructuring.
Contoh yang negatif seperti ini. Misalnya anda, sebagai orangtua dan figur yang dipandang memiliki otoritas, saat mengetahui bahwa anak anda nilai ujiannya jauh di bawah harapan anda, berkata, “Dasar anak goblok. Kamu selalu dapat nilai jelek. Dari dulu sampe sekarang nilaimu nggak pernah bagus. Heran ya... kok ada anak goblok seperti kamu?”
Apa yang anda lakukan pada anak anda adalah satu bentuk hipnosis yang sangat dahsyat. Hipnosis yang anda lakukan mampu menembus langsung ke pikiran bawah sadar anak, melalui gerbang pikiran bawah sadar yang saat itu terbuka lebar akibat perasaan takut mendapat nilai jelek, dan akan sangat efektif. Mengapa efektif? Karena kalimat yang anda “pilih” sungguh merupakan afirmasi yang sangat ampuh. Coba anda perhatikan kembali kalimat di atas, khususnya kata-kata yang saya garisbawahi.
Saya beri contoh lain yang positif. Bagaimana caranya membuat anak, misalnya usia 1,5 – 4 tahun, yang sulit makan menjadi suka makan? Bagaimana caranya membuat anak yang sampai usia 7 atau 8 tahun masih juga “ngompol” (bahasa teknisnya, enuresis) saat tidur malam hari menjadi tidak “ngompolan”?
Dengan pemahaman akan cara kerja pikiran kita dapat dengan mudah memasukkan sugesti positif untuk membantu anak mengubah perilakunya. Caranya bagaimana? Kita harus tahu kapan gerbang bawah sadar terbuka secara alamiah dan pada saat itu kita harus segera memasukkan afirmasi positif, tentunya dengan pilihan kata yang cermat.
Saya mengajarkan teknik ini pada setiap orangtua yang hadir di seminar saya di berbagai kota. Hasilnya? Cespleng. Saya sendiri sampai saat ini, meskipun saya mengerti betul cara kerja teknik ini, sering kagum dan takjub melibat betapa cepatnya perubahan bisa terjadi.
Sebaliknya bila kita tidak berhati-hati saat berbicara dengan anak kita, terutama dengan kata-kata yang kita gunakan, maka secara sengaja maupun tidak, kita telah melakukan hipnosis yang efeknya akan sangat negatif.
Riset yang dilakukan para pakar di bidang pikiran dan otak, di luar negeri., mendapatkan satu hasil yang perlu kita cermati dengan hati-hati sekali. Riset itu menyatakan bahwa anak saat berusia 0 – 3 tahun hanya beroperasi dengan menggunakan pikiran bawah sadar. Dengan demikian apapun yang dialami oleh seorang anak pada 3 tahun pertama hidupnya akan diserap semuanya oleh pikiran bawah sadarnya. Jika mau lebih tepat, sebenarnya pikiran bawah sadar sudah aktif sejak anak masih dalam kandungan.
Filter mental (pikiran sadar) baru mulai terbentuk saat anak berusia 3 tahun. Filter ini akan semakin menebal pada usia 8 tahun dan akan sangat tebal pada usia 13 tahun. Walaupun pikiran sadar ini semakin kuat kerjanya pada usia 13 tahun, dari penelitian yang lain didapatkan satu penemuan menarik, yaitu anak mulai usia 0 – 13 tahun masih sangat banyak yang beroperasi pada gelombang otak theta ( 4 – 8 Hz). Ini adalah gelombang pikiran bawah sadar.
Penasaran dengan penemuan ini saya mengukur gelombang otak anak kami yang bungsu, usia 5,5 tahun, dengan piranti Brain Wave 1 yang saya miliki dan menemukan satu hal yang sangat mengejutkan saya. Hasil pengukuran menunjukkan anak kami, saat dalam kondisi sadar, ternyata beroperasi dengan sama sekali tidak ada gelombang beta, sangat sedikit gelombang otak ”very low” alpha, dan sangat banyak theta dan delta.
Bisa anda bayangkan betapa berbahayanya bila kami, dan juga anda tentunya sebagai orangtua, salah bicara dan bersikap pada anak. Apapun yang kita katakan akan langsung tertanam di pikiran bawah sadar anda. Selanjutnya akan menjadi program pikiran yang menentukan perilakunya.
Berikut saya akan berikan contoh efek positif dan negatif hipnoterapi.
Di buku Hypnotherapy : The Art of Subconscious Restructuring saya memberikan empat contoh, dari sekian banyak kasus, yang pernah saya tangani dengan hasil yang sangat baik. Ada klien yang telah mengalami trauma selama 41 tahun dan bisa disembuhkan hanya dalam waktu 30 menit terapi. Ada juga yang phobia tensoplast, selama lebih dari 20 tahun, sembuh total juga hanya dalam waktu sekitar 30 menit. Ada juga yang phobia matematika dan juga ada yang gagap berhasil disembuhkan dengan hipnoterapi.
Ada klien yang hanya membutuhkan satu sesi terapi. Ada yang membutuhkan beberapa sesi. Bergantung situasi dan kondisi klien.
Nah, apa bahayanya hipnoterapi?
Hipnoterapi akan sangat berbahaya bila teknik terapi yang digunakan salah. Ini ada satu kasus nyata. Seorang klien yang ingin berhenti merokok mendatangi seorang hipnoterapis. Oleh si hipnoterapis, si klien diinduksi, masuk ke kondisi trance, lalu disugesti dengan kalimat berikut:
”Mulai sekarang setiap kali anda merokok anda akan merasa muak dan jijik dengan rokok. Setiap kali anda mencium bau rokok anda merasa muak, mual, dan jijik. Mulai saat ini dan seterusnya anda benci dan tidak suka merokok. Bila anda merokok, anda akan merasakan seluruh tubuh anda sakit sekali, kepala anda pusing, dan langsung terbayang paru-paru anda kena kanker yang sangat ganas dan mengerikan. Anda tentunya tidak mau kena kanker ganas dan mengerikan, bukan? Untuk itu anda harus berhenti merokok mulai sekarang dan seterusnya”
Untuk orang awam, apa yang dilakukan si hipnoterapis ini kesannya sudah benar. Tahukah anda bahwa teknik terapi seperti di atas, kalau di Amerika, masuk kategori malpraktik? Si hipnoterapis bisa dituntut dan masuk penjara.
Apa yang salah dengan teknik di atas? Lha, kalau si klien tetap merokok, apa yang akan terjadi? Program yang menyatakan ”Bila anda merokok, anda akan merasakan seluruh tubuh anda sakit sekali, kepala anda pusing, dan langsung terbayang paru-paru anda kena kanker yang sangat ganas dan mengerikan” akan langsung bekerja. Bisa jadi si klien akan benar-benar kena kanker paru-paru.
Anda lihat sekarang betapa bahayanya bila caranya salah? Saat dalam kondisi trance pikiran sadar klien ”off” sehingga sugesti yang diberikan akan langsung tertanam di pikiran bawah sadar klien.
Apakah mungkin hipnoterapis bisa ”mengarahkan” klien untuk melakukan hal-hal yang merugikan diri klien? Jawabnya bisa namun tidak mudah.
Saat seorang klien dalam kondisi deep trance, tiga buah filter pada pikiran sadar tidak bisa bekerja/off. Ketiga filter ini, yang dikenal dengan nama three antisuggestive barriers, berfungsi untuk menyaring berbagai informasi yang diterima pikiran sadar.
Saat dalam kondisi deep trance yang masih aktif adalah dua buah filter yang terletak di pikiran bawah sadar. Filter pertama memeriksa apakah informasi yang masuk, bila dilaksanakan, akan membahayakan diri klien atau tidak. Filter kedua memeriksa apakah informasi ini, bila dilaksanakan, akan bertentangan dengan nilai-nilai dasar yang dipegang oleh klien. Bila berhasil lolos dari dua filter ini maka informasi/sugesti (baca: perintah) ini akan dilaksanakan dengan patuh.
Jadi, seorang klien akan melakukan perintah yang disugestikan oleh hipnoterapis bergantung pada dua hal. Pertama, kecakapan hipnoterapis dalam meyakinkan pikiran bawah sadar klien bahwa si klien harus melakukan yang diminta oleh si hipnoterapis. Kedua, apabila ternyata nilai-nilai yang dipegang oleh klien mengijinkan untuk melakukan perintah yang diminta oleh hipnoterapis.
Bingung? Saya beri contoh konkrit.
Misalnya seorang klien, sebut saja Anto, sangat sayang pada orangtuanya. Saat dihipnosis, masuk dalam kondisi deep trance, ia diminta untuk membunuh orangtuanya. Apakah sugesti/perintah ini akan ia laksanakan? Tidak!
Mengapa? Karena perintah ini bertentangan dengan nilai dasar yang Anto pegang. Anda jelas sekarang?
Misalnya Anto, yang ternyata sangat kuat ibadahnya, diminta menginjak kitab suci agamanya. Apakah akan ia lakukan? Tidak! Menurut nilai dasar yang Anto pegang, menginjak kitab suci akan masuk neraka dan akan dibakar tujuh kali. Tentu saja Anton tidak mau masuk neraka.
Lain halnya bila Anto memang sangat membenci kedua orangtuanya. Atau misalnya ia adalah seorang atheis. Kalau begini kondisinya maka perintah untuk membunuh orangtuanya atau menginjak kitab suci akan dilakukan dengan patuh.
Pembaca, sugesti apapun tidak akan dilakukan bila tidak mendapat persetujuan dari pikiran bawah sadar klien.
Saya yakin, sekarang di benak anda ada pertanyaan berikut, ”Bagaimana caranya untuk bisa meyakinkan dan mendapat persetujuan dari pikiran bawah sadar klien sehingga mau melakukan yang kita minta?”. Saya tidak akan memberikan jawaban untuk pertanyaan ini.
Menjawab pertanyaan apakah hipnosis/hipnoterapi berbahaya atau tidak? Jawabnya tidak. Hipnosis/hipnoterapi bersifat netral. Tidak baik atau buruk. Baik atau buruk bergantung pada siapa yang menggunakan dan untuk apa. Jadi ini semua kembali kepada diri kita masing-masing.
Sama seperti sebuah pisau. Pisau bisa digunakan untuk memasak. Pisau yang sama, setelah digunakan untuk memasak, bisa digunakan untuk membunuh orang.
Jadi, sebenarnya yang berbahaya apakah hipnosis/hipnoterapi ataukah hipnotis/hipnoterapis?
Setiap kali mendapat pertanyaan seperti di atas saya selalu teringat dengan apa yang dikatakan oleh paman Spiderman, ”With great power comes great responsibility”.












PENGERTIAN DAN DEFINISI NLP
04 April 2007
Waidi Akbar, Cert.NLP

Awalnya karena saya suka berwisata intelektual melalui membaca buku-buku sosial budaya, politik, filsafat, manajemen kontemporer, buku-buku motivasi dan dunia pikiran. “Wisata intelektual” saya itu sempat singgah sejenak karena ada istilah NLP. Setelah saya dalami, saya nikmati, apa yang dibahas disana khususnya tentang motivasi dan pengembangan diri, saya merasa bahwa saya termasuk pelaku NLP alami. Sebagian sudah saya jalankan, meski pun waktu itu saya belum mengenal ilmu ini.
Saya merasa tertarik untuk mendalaminya. Saya coba browsing di internet. Ternyata ilmu ini sudah berkembang pesat di Amerika, Eropa, Australia dan Asia. Di Indonesia masih sangat terbatas. Belum banyak berkembang. Gayung bersambut, universitas tempat saya bekerja melalui program pengembangan SDM memberikan kesempatan saya untuk mengikuti pelatihan NLP di Sydney Australia (2005).
Apakah NLP itu? NLP berawal dari tesis seorang mahasiswa, Richard Bandler, dengan profesornya, John Grinder pada tahun tujuh puluhan. Bandler ingin menjawab sebuah pertanyaan mendasar: kenapa seseorang bisa sukses sementara orang lain tidak? Setelah melakukan penelitian secara intens-sistematis, mereka menemukan sebuah jawabannya. Ternyata, orang-orang sukses dalam meraih keberhasilannya memiliki perilaku yang nyaris sama dalam hal strategi-strateginya. Kesemua strategi itu akhirnya dapat dikodifikasikan dan dimodelkan yang pada gilirannya dapat ditiru (dimodel) oleh orang lain yang ingin sukses.
Ada tiga istilah yang harus saya jelaskan secara harfiah. Neuro, berarti sel syaraf otak. Dalam konteks ini, bagaimana sel-sel tersebut mencatat atau merekam informasi di sekitas kita setelah mendapatkan stimulus. Menurut para ahli neuro science, sel syaraf otak kita menerima 4 juta item informasi per detiknya. Informasi itu masuk ke dalam alam pikir kita melalui peran sel-sel syaraf atau akson.
Menurut Pasiak (2204) dalam otak manusia terdapat akson yang berfungsi sebagai pemberi pesan dalam tubuh kita. Akson setelah menerima stimulus dari luar dan diproses melalui dua cara:1) sinyal listrik dan 2) sinyal kimiawi (neurotransmitter). Dengan proses listrik dan biokimiawi inilah informasi yang jumlahnya jutaan itu dicatat dan direkam. Sangat kompleks yang kita rekam, dari apa yang kita lihat, dengar, dan raba/pegang hingga apa yang kita baui dan kita rasakan melalui panca indera. Dengan kata lain, neuro berarti bagaimana sel-sel syaraf otak menerima informasi.
Semua yang kita sensing melalui panca indera itu, pencatannya membutuhkan kebahasaan (linguistic) sebagai alat bantu. Inilah unsur kedua dari pengertian harfiah NLP, yakni linguistic. Tanpa bahasa otak kita tidak bisa mereprentasikan, tidak bisa menggambarkan apa kita alami. Contoh betapa bahasa akan memudahkan kita untuk merepresentasikan sesuatu peristiwa agar pikiran mudah mencatat/merekamnya. Katakanlah Anda mengalami sebuah peristiwa makan pagi misalnya. Tentunya Anda dapat melihat (potret makan pagi) dalam pikiran Anda. Anda juga dapat merasakannya: enak, menyenangkan, membauinya dan mendengarkan tegukan air minumnya.
Semuanya itu tercatat/terekam dengan baik. Gambaran mental, imej terhadap peristiwa makan pagi, masih tercatat dengan baik. Namun problem muncul kemudian ketika Anda ingin menceritakan peristiwa yang menyenangkan itu kepada orang lain. Anda tidak akan bisa menceritakan ulang tanpa bantuan bahasa. Bahasa dengan demikian, satu sisi mempermudah bagaimana pikiran merepresntasikan sebuah peristiwa (representasi internal); pada sisi lain mempermudah bagaimana menceritakan ulang peristiwa tersebut kepada orang lain.
Setelah manusia secara neurologis dapat mengambil informasi, dan melalui bahasa manusia dapat merepresentasikan/mengomukasikannya ke orang lain; manusia dengan akal sehatnya dapat membuat sebuah rencana atau program-program tertentu agar kualitas hidupnya meningkat (sukses). Inilah yang disebut programming dalam NLP. Program-program ini juga tidak lepas dari peran bahasa.
Programming berarti mengacu sebuah rencana tindakan, strategi atau pola perilaku (pattern). Hampir semua tindakan atau aktifitas dapat dipolakan atau diprogramkan. Makan pagi, belajar, bekerja rutin nyaris membutuhkan pola-pola tindakan yang menjadi kebiasaan. Perilaku merokok pun ada pola tindakannya dimulai dari: membeli rokok,membuka, menyulutnya, menghirup dan merasakan kepulan asapnya, buang abu ke asbak hingga membeli lagi bila sudah habis.
Semua pola tindakan yang sudah membiasa, hampir tidak pernah kita kritisi lagi. Apakah pola tindakannya itu, programming-nya itu, dapat mengantarkan pelakunya ke tingkat kehidupan yang lebih baik, atau justru menjerumuskannya. Kebiasaan merokok, programming pikiran yang disebut merokok, nyaris tidak dikritisi lagi apakah justru memberdayakan atau merugikan karena hanya menghasilkan banyak efek negatifnya dari pada efek positifnya.
Programming dapat juga berarti pola pikir yang diaktualisasikan. Bila Anda kebetulan memiliki pola pikir bahwa “bisnis adalah serangkaian tindakan yang penuh resiko”, maka nasib Anda dapat dipastikan tidak akan menjadi seorang pebisnis. Pola pikir, yang dalam NLP disebut programming akan menentukan nasib si pemilik program itu. Bila saya memiliki program bahwa “menulis adalah serangkaian tindakan yang mengasyikkan” maka nasib saya hari ini menjadi penulis.
Programming, merupakan pemandu tindakan menuju hasil. Bila saya memogram pikiran saya bahwa “hidup adalah serangkaian tindakan yang menggairahkan”, nyaris setiap detik aktifitas saya merasa bergairah dan penuh semangat. Anda pun mulai saat ini dapat memrogram pikiran Anda sesuai dengan apa yang ingin Anda inginkan.
Dari uraian di atas, yakni neuro, linguistic, dan programming, dapat diambil simpulannya (generalisasi)-nya. Neuro mengacu pada peran sel-sel syaraf otak dan fungsinya dalam menerima situmulus (informasi) dari luar. Linguistic, lebih terkait erat dengan peran bahasa sebagai media komunikasi dengan diri sendiri (intra-communication) dan inter-communication. Programming menyangkut soal perilaku yang terpola. Apabila menurut Vygotsky3 bahwa bahasa merupakan mental tool yang berguna untuk mengontruksi pengengetahuan (informasi) dan pengembangan diri, maka NLP (berikut peran bahasa) berarti seperangkat alat untuk mengonstruksi atau memogram pikiran (mental) agar seseorang bisa berkembang dan sukses.
Definisi
Banyak definisi tentang NLP. Ada yang menyebut psikologi ekselensi. Ini tidak lepas karena melalui teknik-teknik NLP seseorang memungkin dirinya akan tumbuh menjadi manusia excellent. Dari tidak tahu potensi dirinya yang tersmipan di pikiran bawah sadar menjadi sadar untuk mengoptimakannya.
Sebagain penulis NLP mendefinisikan sebagai studi tentang subjective experience. Ini terkait dengan pengalaman subjektif atau persepsi subjektif seseorang terhadap suatu peristiwa. Adalah sangat mungkin persepsi subjektifnya seseorang berbeda terhadap peristiwa yang sama. Contohnya, huruf “C” dapat dibaca cekung atau cembung sama-sama benarnya, tergantung sudut pandang pembaca. Satu gelas berisi air setengahnya, dapat dikatakan “setengah isi” atau “setengah kosong”. Masing-masing benar menurut sudut pandang subjektifnya.
Terkait dengan subjective experience, seseorang memandang bisnis sebagai aktifitas yang sangat menyenangkan, sebagaian lagi memandangnya sebagai hal yang memusingkan dan penuh resiko. Peristiwanya sama, yakni bisnis, namun persepesinya berbeda. Perbedaan ini tidak lepas dari nilai-nilai dan kepercayaan (belief) yang dimilikinya sebagai filternya. NLP sangat peduli dengan hal ini, yakni merubah sudut pandang yang keliru atas suatu hal secara ekologis dan nilai-nilai individual.
Sebagian lagi mendefinisikan NLP studi yang mempelajari teknik-teknik untuk merealisasikan program pikiran menjadi kenyataan. Atau mind to real (mind to muscle). Program yang kita rencanakan seringkali tidak jalan, tidak menjadi kenyataan. Hal ini karena apa yang kita programkan, apa yang kita pikirkan, belum sepenuhnya dijalankan oleh tubuh kita. Belum ada sinkronisasi antara program dalam pikiran dengan tubuh sebagai pelaksana. NLP mencoba memberikan teknik-teknik agar pikiran dan tubuh terjadi sinkronisasi. Sebab, sepanjang apa yang kita pikirkan belum membodi, belum menjasi badai biokimiawi yang memungkinkan tubuh menjadi siap melaksanakannya, maka apa yang kita pikirkan sulit untuk direalisasikan.
Dari sekian definisi, ada satu definisi yang menurut saya cukup representatif untuk mamahami apa itu NLP. Coolingwood (2005) mendefinisikannya “ NLP studies the way people take information from the world, how they describe it to themselves with their senses, filter it with their beliefs and value and act on the result”.
Dari definisi Coolingwood tersebut di atas bahwa NLP merupakan studi tentang: Pertama, bagaimana manusia mengabil informasi dari dunia sekitar melalui interaksi dan stimulus. Hasilnya, yakni sensing melalui apa yang ia lihat, dengar, dan rasakan diolah oleh cortex dengan neuro-transmiternya, mengubahnya menjadi informasi yang tersimpan di pikiran. Apa yang tercatat dan tersimpan itu disebut representasi internal.
Kedua, bagaimana apa yang sudah direprenatasikan itu dapat dipahami oleh dirinya. Tentunya tingkat pemahamananya sangat subjektif --maka disebut subjective experience—sifatnya menurut tingkat pendidikan, kepercayaan/keyakinan,dan nilai-nilai subjektif lainnya. Menurut hemat saya, tidak saja bagaimana apa yang direpresentasikan itu dapat dipahami oleh diri sendir, tetapi bagaimana dapat dipahami oleh orang lain. Di sinilah pentingnya peran kebahasaan (linguistic). Apa yang Anda alami dalam hidup ini tidak cukup untuk dirinya sendiri tetapi akan lebih bermakna bila dikomunikasikan dengan orang lain melalui bahasa.
Ketiga, bagaimana hasil dari pemahaman itu. Atau bagaimana apa yang direprensentasikan ke dalam pikiran itu menjadi lebih bermanfaat untuk dirinya dan orang lain. Sebuah pengalaman, sebuah pemahaman subjektif bukanlah berakhir pada pemahaman itu sendiri, melainkan kebermanfaatan bagi dirinya dan orang lain jauh lebih penting. Sebuah pengalaman memasak misalnya kurang bermanfaat bila hanya diimpan dalam pikiran sebagai arsip. Namun apa bila dipraktikkan, take action, akan menjadi lebih bermanfaat bagi dirinya dan orang lain.
NLP sangat peduli dengan “acting on the result”, bukan hanya sekedar memahami dunia di sekilingnya, melainkan bagaimana semua pengalaman yang kita miliki menjadi kekuatan, menuju manusia sukses. Maka tidak heran kalau para ahli NLP menyebut NLP adalah program pikiran menjadi kenyataan, from mind to real. Singkatnya, bagaimana sebuah program pikiran benar-benar mem-body sehingga menjadi perilaku sukses.
Catatan: artikel ini bagian dari buku yang sedang saya tulis “NLPsebagai Teknologi Trasformasi Diri”. Buku NLP lain yang diterbitkan: The Art of Re-engineering Your Mind for Success”, buku “On Becoming A Personal Excellent”, buku “Self Empowering by NLP: Jangan Mau Seumur-umur Dibodohi Diri Sendiri”.

HYPNOSIS #1 : MENGENAL FENOMENA HYPNOSIS DAN PEMANFAATANNYA
19 April 2007
Asep Haerul Gani
PERINGATAN !
Jangan sangka tulisan ini mengandung daya HYPNOSIS.
Bila anda tidak ingin tahu fenomena Hypnosis jangan baca tulisan ini.
Bila anda tidak mau kena pengaruh hypnosis, tak perlu baca artikel ini. Semakin anda membaca tulisan ini, membuat anda semakin fokus , dan Anda semakin memahami informasi apapun yang disajikan dalam artikel ini.

HYPNOSIS #1 .
Mengenal fenomena Hypnosis dan pemanfaatannya

PERSEPSI TENTANG HYPNOSIS
Saat anda membaca kata “Hypnosis” , pikiran apa yang segera muncul di benak Anda ?
Manakah di antara pilihan ini yang menggambarkan pikiran Anda ?
• Hypnosis adalah keterampilan yang mampu membuat orang seperti Boneka, dapat diperintah sesuka hati
• Hypnosis bagian dari kuasa kegelapan, bagian dari sihir dan magic
• Hypnosis hanya dimanfaatkan untuk kejahatan
• Hypnosis diperoleh dengan jalan tapabrata
• Hypnosis memerlukan bakat khusus
• Lainnya, sebutkan ...................................................

Anda tidak sendirian bila Anda memiliki pandangan negatif terhadap HYPNOSIS. Dari pengalaman saya membuka kajian HYPNOSIS dan HYPNOTERAPI baik di kalangan awam ataupun kalangan akademik, respon paling umum dari peserta adalah berjaga-jaga dan SKEPTIK. Perilaku skeptik ini pun menggiring orang tersebut ke dua titik. Pertama, hadir untuk membuktikan apakah HYPNOSIS seperti yang dipikirkannya. Kedua, langsung ambil kesimpulan bahwa HYPNOSIS persis seperti anggapannya, jadi tak perlu datang , percuma tak berguna.
Pandangan negatif terhadap HYPNOSIS ini diperbesar oleh media cetak da elektronik yang menayangkan Hypnosis Panggung (Stage Hypnosis) . Sebagai bentuk hiburan, Anda melihat bahwa sang Hypnotist bisa menentukan subyek persis seperti yang diinginkannya, seakan tidak memiliki kehendak bebas. Di Hypnotis untuk hiburan ini, Anda melihat betapa bodoh, konyol dan memalukannya perilaku manusia.
Pandangan miring terhadap HYPNOSIS ini diperparah lagi dengan adanya tayangan televisi yang menampilkan seseorang paranormal menggunakan pakaian hitam-hitam yang menjalankan aksi-aksi panggungnya . Anda melihat bagaimana seseorang hanyalah menjadi permainan dari sang Dukun.






Pandangan kurang bersahabat terhadap HYPNOSIS ini semakin dahsyat dengan berita-berita kriminal yang menayangkan korban-korban kejahatan atas nama HYPNOSIS. Anda mungkin pernah membaca ada sejumlah Kasir di pertokoan yang langsung memberikan uang yang diminta orang Hadramaut berjubah. Anda mungkin pernah membaca ada orang yang jadi korban mentrasfer uang ke nomor tertentu karena mendapatkan info bahwa ia dapat hadiah mobil. Anda mungkin pernah membaca seorang keluar dari Bank kemudian mau diajak masuk Taksi oleh seorang berpenampilan keren dan memberikan uangnya di dalam Taxi. Anda mungkin pernah membaca seorang mahasiswa kehilangan handphone sekaligus dompetnya saat ada seoseorang berkenalan dengannya dan mendemonstrasikan keterampilannya dalam pijat reflexi. Anda bisa jadi pernah tahu seseorang di dalam angkot tiba-tiba muntah lalu ada orang yang kehilangan dompet, uang , handphone.
Anda tidak sendirian bila berpikiran HYPNOSIS negatif, buruk, perdukunan, perbodohan dan bagian dari kejahatan. Namun demikian, apakah HYPNOSIS memang seperti itu ?

FENOMENA HYPNOSIS
Apapun pikiran dan pendapat anda tentang ’HYPNOSIS”, lanjutkanlah membaca dan jujurlah menjawab pertanyaan berikut .
Tandailah mana saja fenomena yang pernah Anda alami .
• Mengantuk yang sangat di kendaraan
• Khusyuk ketika sedang berdo’a
• Asyik saat memancing sehingga lupa waktu
• Asyik main game di computer hingga lupa makan
• Asyik menekuni hobi tertentu, semakin menemukan tantangan semakin masuk tak mau berhenti sebelum selesai
• Badan makin santai , perasaan semakin nyaman saat Anda mencium aroma tertentu
• Melamun, hingga terlupa hal yang harusnya dikerjakan
• Asyik membaca buku, hingga tak terdengar orang yang memanggil
• Saat berjalan tiba-tiba sadar bahwa sedang berjalan ke tempat lain , karena pikiran terlena memikirkan sesuatu
• Saat kaki anda turut menendang , ketika sedang asyik menonton jagoan sepakbola di televisi
• Saat Anda sedang gundah, ada seorang teman mendekati Anda lalu menyampaikan sesuatu, dan Anda langsung melakukan apa yang disarankannya
• Anda terhanyut saat melihat Video / film / pagelaran wayang /teater dan ikut kesal, marah, gembira sesuai perasaan pemeran utama
• Perasaan Anda terlibat kala mendengar sandiwara radio sehingga naik turunnya emosi Anda sesuai dengan naik turunnya emosi pemeran di radio.
• Anda membayangkan suatu keadaan yang Anda rencanakan, dan ternyata terjadi seperti yang Anda bayangkan
• Anda percaya kepada seseorang entah itu sahabat, orangtua, Guru, Suhu . Setiap satannya anda langsung lakukan tanpa syarat.
• Anda mengatakan sesuatu kepada diri anda sendiri, lalu perasaan Anda terpicu oleh kata yang Anda ucapkan
• Anda merasa makin nyaman dan berharga saat Anda menyadari dan mensyukuri apa yang telah Anda raih
• Anda datang ke pertokoan, membeli sesuatu, setibanya di rumah anda sadar bahwa Anda tidak memerlukan barang itu
• Anda selalu membeli produk dengan merk tertentu tanpa bisa menjelaskan alasan argumentatif rasional dan ilmiah alasan membeli produk dengan merk itu














Bila Anda menandai satu saja di antara fenomena tersebut sebagai fenomena yang pernah anda alami, ini berarti Anda pernah mengalami fenomena HIPNOSIS, terlepas pandangan atau pemikiran anda tentang HYPNOSIS.
Ormond Mc Gill seseorang yang dijuluki Dekan Hypnotis Amerika mengatakan ”Tidak mudah memberi pengertian tentang HYPNOSIS, namun HYPNOSIS tak ubahnya seperti listrik, sedikit orang yang bisa menjelaskannya dengan mudah, namun yang jelas listrik memiliki DAYA yang dapat dimanfaatkan. Demikian pula HYPNOSIS ”.Listrik tentunya netral, menjadi berguna atau berbahaya sangat tergantung yang memakainya, demikian pula Hypnosis.

PROSES HYPNOSIS ALAMIAH
Hypnosis bercirikan keadaan yang single focus, orang lebih peka terhadap proses dalam tubuhnya termasuk proses pengindraannya . Karena fokusnya ke satu hal maka pembelajaran lebih mudah terjadi jika dibandingkan dengan pembelajaran saat Anda fokus ke beberapa hal.
Untuk sampai ke keadaan single focus ini beragam metoda dapat dilakukan. Anda bisa duduk di kursi dengan mata terpejam sambil menyadari masuk dan keluarnya nafas. Anda bisa fokuskan perhatian kepada suatu titik, gambar, gerakan benda. Anda bisa juga mengingat keadaan yang menyenangkan dan merasakannya kembali. Anda bisa mengingat kembali pengalaman saat sedang menonton acara yang membuat anda nyaman. Anda bisa pula menghitung mundur dari 100 hingga 1 dan menyadari semakin mundur semakin relaks. Cara-cara untuk masuk ke dalam keadaan fokus ini dinamakan INDUKSI. Tujuan dari induksi ini adalah agar anda lebih relaks, sehingga anda lebih fokus dan bank ingatan anda terbuka.
Bank ingatan ini adalah tempat semua program-program hidup anda selama ini . Membuka bank ingatan ini dalam keadaan banyak fokus tidak mudah. Hanya dalam keadaan single focus sajalah, bank ingatan ini mudah terbuka dan mudah pula untuk menerima program-program pembelajaran baru. Bank ingatan ini dikenal dengan nama Long Term Memory, Subconscious ataupun Unconscious .
Manusia dalam hidupnya menerima program dari lingkungannya , terawal dari pengasuhnya melalui KATA atau KALIMAT yang perlahan-lahan dimasukkan ke dalam bank ingatannya. Kata atau kalimat apapun yang masuk ke bank ingatan akan diolah langsung persis apa adanya. Bila kata ”Saya Lemas” yang masuk ke Bank ingatan, maka bank ingatan menerima perintah PROGRAM ”SAYA LEMAS” lah yang harus dijalankan oleh tubuh, maka tubuh hanya memberikan respon-respon yang melahirkan ”SAYA LEMAS”. Penggunaan kata dan kalimat seperti ini disebut dengan SUGESTI atau SCRIPT atau CHANGE atau LEARNING. Semakin Sugesti ini sering dimasukkan ke dalam Bank ingatan, maka semakin intenslah program itu, dan semakin kuat pula untuk mengubah orang tersebut ke arah program yang dimasukkan.
Hypnosis dalam fenomena sehari-hari berjalan melalui 2 proses kunci itu. Proses Induksi dan proses Sugesti. Hypnotis dalam kehidupan kita adalah diri kita sendiri, pengasuh, orangtua, keluarga, guru, masyarakat dan budaya. Anda bisa saja bebas dari pengaruh Clinical Hypnosys, namun anda hingga saat ini bisa jadi terbelenggu dalam pengaruh Cultural Hypnosys. Apa yang anda makan, apa yang anda pakai, apa yang anda persepsikan baik dan buruk, bernilai tak bernilai, bisa jadi bukan atas olah pilih anda sendiri.
Hingga paragraf ini, Anda sudah tahu bagaimana persepsi negatif terhadap Hypnosis terjadi. Anda pun sudah tahu pula bahwa fenomena HYPNOSIS akrab dengan diri Anda. Anda sudah tahu INDUKSI dan anda sudah tahu SUGESTI dalam Hypnosis. Anda pun sudah tahu proses HYPNOSIS dalam keseharian.









PEMANFAATAN FENOMENA HYPNOSIS
Dari obrolan dengan peserta kajian Hypnosis dan Hypnotherapi di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, USU Medan, Universiti Kebangsaan Malaysia, UI Depok, SDIT Imam Bukhori Sumedang dan para santri di Pondok Pesantren Hypnotherapi Ciputat diketahui bahwa peserta mengakui fenomena hipnosis mereka alami, hanya seringkali justru yang berakibat negatif untuk diri.
Sebutlah si Amin, dia mengatakan ”Pada saat bangun pagi, kata pertama yang saya ucapkan ”Aduh lemas kali badan ni !” , lalu istri saya yang mendengar kata-kata saya mengatakan, ”Wah betul nih Bang, badan Abang panas, baiknya Abang tidur aja agar tidak sakit parah”. Lalu saya mengikuti saran istri saya, badan saya kemudian menghangat dan saya malah sakit parah”.
Lain lagi si Johan , ia berkata ”Saat saya berhadapan dengan tugas di kantor saya sering berkata pada diri sendiri ” Apapun yang saya laukan, Bos pasti memarahi saya” dan herannya kejadian yang saya alami dengan boss saya persis seperti apa yang saya sering katakan kepada diri saya.
Amin dan Johan sudah menggunakan HIPNOSIS dengan sukses. Amin SUKSES memperoleh badan yang lemas , panas dan sakit parah. Johan SUKSES memperoleh kemarahan Boss nya. Dengan metodologi dan teknik yang persis sama , sebenarnya Amin bisa memperoleh badan yang bugar dan sehat dan Johan bisa mendapatkan pujian Boss nya. Tentu saja bila mereka memahami bahwa fenomena itu bisa dimanfaatkan.
Anda bisa memanfaatkan fenomena HYPNOSIS ini dalam diri Anda.

AFFIRMASI
Affirmasi adalah menyatakan seuatu yang positif tentang diri Anda. Mulai saat ini hentikanlah kata atau kalimat yang menyatakan diri anda dengan citra negatif. Mulai saat ini lakukanlah memberikan pernyataan-pernyataan positif tentang diri Anda. Buatlah sendiri pernyataan-pernyataan apa yang anda inginkan tentang diri anda. Saya menulis beberapa , anda bisa melanjutkannya dan membuatknya sesuai dengan yang Anda inginkan .

• Saya pandai dalam semua pelajaran
• Saya menarik sebagai pembicara
• Apapun lelucon yang saya sampaikan, pendengar terhibur
• Saya tampil tenang, mampu menguasai keadaan, dan berbicara lancar
• Apapun yang saya lakukan membuat saya semakin baik dan kreatif
• Masalah apapun yang muncul di hadapan saya mampu saya atasi
Dalam fenomena budaya , Afirm├ísi ini dikenal dengan beragam nama . Urang Sunda memberi nama Rajah, Jampe, Jangjawokan. Dalam tradisi Hindu dan Budha namanya MANTRA . Dalam tradisi Muslim namnya Du’a . Dalam tradisi Latin namanya Ora.
Affirmasi diucapkan berulang-ulang setelah anda fokus. Keadaan fokus ini bisa anda capai saat anda terjaga dari tidur saat anda mata mengantuk terlelap ingin tidur. Keadaan fokus ini bisa pula anda capai saat anda mandi di pancuran (shower) merasakan sejuknya air, saat anda sedang menghirup wangi-wangian, saat anda spa, saat anda mandi kembang, saat anda dipijat, saat anda luluran, saat anda latihan pernapasan, saat anda Chi Kung, saat anda menari, saat anda bermain musik. Anda pun dapat fokus dengan menggunakan ritual agama , saat meditasi, saat bertapabrata, saat berdoa, saat wudhu, saat shalat, saat dzikir. Ucapkanlah kata-kata Affirmasi anda setelah anda fokus.











VISUALISASI
Paling tidak Anda pernah sekali melamun dalam hidup Anda. Dalam keadaan melamunkan sesuatu, anda masuk ke keadaan yang menggunakan seluruh 6 indra Anda (mata anda melihat rupa dan warna sesuatu dalam lamunan, hidung anda menghidu bau sesuatu dalam lamunan, telinga anda mendengar bunyi tertentu dalam lamunan, lidah anda mengecap rasa tertentu dalam lamunan, tangan dan kaki anda merasakan tekstur tertentu dalam lamunan dan Tubuh Anda merasakan hal tertentu dalam lamunan dan pikiran anda sedang asyik dengan pikiran tertentu dalam lamunan) . Visualisasi meskipun mengandung kata VISUAL yang artinya penglihatan mempunyai makna yang lebih luas mencakup keenam indra (lihat, dengar, cium, raba-rasa, kecap, pikiran).
Bang Doel seorang peserta kajian Hypnotherapy saat istirahat pernah berkata pada saya ”Suatu kali karena dituntut dateline saya harus mengerjakan tugas hingga pukul 21.00. Saya baru keluar kantor pukul 21.15. Saat itu saya membayangkan saat saya tiba di rumah, istri bertanya dengan nada ketus dan penuh curiga, lalu marah-marah. Setibanya di rumah saya mendapatkan persis apa yang saya bayangkan”. Apa yang dilakukan oleh Bang Doel ini adalah visualisasi. Apa yang dibayangkannya dalam pikiran menjadi kenyataan.
Visualisasi dapat anda lakukan dengan MELAMUNKAN apa OUTCOME anda, dan anda menghayatinya SAAT INI dan SEKARANG telah tercapai.. Misalnya anda akan berangkat ke kantor menggunakan kendaraan umum. Anda dapat melamunkan skenario berikut ”Anda melihat anda berpakaian rapi, Anda merasakan udara yang segar terdengar suara anak anda berkata ” Hati-hati ya Pa/Mah, Sukses Ya”, dan anda berjalan keluar rumah dengan ayunan kaki penuh energi. Di tepi jalan raya anda melihat kendaraan umum yang anda akan tumpangi menuju ke arah Anda. Anda menyetop, dan mobil perlahan berhenti di depan anda. Anda kemudian merasakan kaki anda naik ke mobil, dan di dalam mobil Anda masih menemukan satu tempat duduk kosong yang bersih, dan di sampingnya hadir orang yang menyenagkan. Anda mendengarnya menyapa ”Silakan duduk pak/bu?” Anda kemudian duduk di kursi tersebut, berbincang-bincang dengan rekan sebalah Anda, kemudian tak terasa sampai di tempat tujuan. Anda kemudian berdiri, turun dari mobil lalu berjalan menuju kantor Anda. Anda tersenyum kepada setiap orang dan anda rasakan sampai di kursi/meja anda dalam keadaan segar dan penuh energi”. Ada ahli yang mengatakan Visualisasi sebagai Teater Pikiran.
Latih berulang-ulang VISUALISASI ini hingga otomatis dan otak mendapatkan gambaran dengan skenario paling sempurna. Ketika skenario ini tercatat di otak, dan otak mengirimkan perintah ke seluruh anggota tubuh yang tercitrakan dalam visualisasi ini, maka siaplah untuk bersyukur, karena apa yang anda Visualisasikan terjadi dalam kenyataan. Latihlah VISUALISASI ini dimulai dengan hal-hal sederhana. Misalnya, saat ada di kantor visualisasikanlah anda santai, pekerjaan anda selesai dengan benar, Anda menikmati pekerjaan anda. Setelah antara Visualisasi dan kenyataan semakin akurat, Latihlah dengan perilaku yang melibatkan orang lain dan lebih rumit.

C. AKNOWLEDGEMENT
Selama ini sebagian dari kita terlalu KRITIS terhadap diri sendiri. Kak Hutagalung peserta kajian di USU mengatakan ”Selama ini, saya sering mengatakan pada diri saya sendiri hal yang justru membuat saya makin tak berdaya. Saya terlalu kritis terhadap hasil kerja saya. Hal ini alih-alih membuat saya terpicu maju malah membuat saya terpuruk, karena emosi saya terkorup”.
AKNOWLEGMENT adalah Anda mengakui keberhasilan-keberhasilan kecil yang Anda telah raih dalam rangka mencapai KEBERHASILAN BESAR. Anda menghargai diri anda atas kesuksesan demi kesuksesan yang telah Anda capai menuju KESUKSESAN.






Mulailah saat ini buat catatan harian atas prestasi anda, misalnya:
• Saya berhasil datang 5 menit sebelum kantor buka
• Saya berhasil meyakinkan calon pembeli untuk mendengarkan uraian saya
• Saya berhasil mengajak anak ngobrol tentang hobinya
• Saya berhasil menulis Artikel tentang Hypnosis dan mengirimkannya ke sejumlah milis
• Saya berhasil menghipnosis pembaca tulisan ini sehingga mereka membaca tulisan ini sampai habis

Cobalah anda tuliskan apa yang telah anda berhasil lakukan hari ini..
Cobalah jujur pada diri anda , apa yang anda rasakan dengan latihan ini. Apakah anda mendapatkan perasaan yang lebih baik? Apakah anda masuk ke dalam State yang lebih positif ? Apakah anda mendapatkan tambahan semangat baru?
Latihlah AFFIRMASI, VISUALISASI, dan AKNOWLEDGEMENT untuk melakukan PERUBAHAN yang Anda inginkan.
Salam hangat dari Ciwandan, Cilegon
Pun Sapun Ampun Paralun
Pakena Gawe Rahayu, Sangkan Nanjung di Juritan, Nanjeur di Buana.
Asep Haerul Gani
HYPNOSIS #2 HEURISTIC THINKING DAN FENOMENA KRIMINAL ATAS NAMA HYPNOSIS
20 April 2007
Asep Haerul Gani
a. Modus Pemikiran Systematic dan Heuristic
Sejumlah ahli mengatakan bahwa ada dua kutub cara berpikir manusia, yaitu cara berpikir sistematik dan cara berpikir heuristic . Cara berpikir sistematik bercirikan pemikiran yang penuh upaya dan kehati-hatian , proses pemikirannya aktif , kreatif dan sadar. Saat Anda dalam pemikiran sistematik sejumlah hal anda anggap penting dan berpengaruh. Pemikir sistematik akan mencari argumen berupa fakta, bukti, contoh alasan dan logika . Seorang yang berpikir sistematik saat melihat iklan di Televisi , pemikirannya asyik mempertanyakan apakah klaim iklan tersebut didukung data penelitian, apakah mengandung kebenaran atau apakah data statistik yang disampaikannya validitasnya bisa dipercaya.
Di kutub lainnya, pemikiran heuristic bercirikan pemikiran yang sambil lalu, ambil jalan pintas, sadar atas situasi meskipun tidak cermat dalam menangkap kejanggalan, kesalahan dan kegamangan dari situasi. Pada pemikiran heuristic , Argumen justru tidak dipandang penting, baginya Cues atau Pertanda berupa daya tarik,keakraban dan keahlian sumber lebih dipandang berharga. Seorang yang sedang menggunakan pemikiran heuristic saat melihat iklan televisi , ia melihat iklan itu sambil lalu dan tertarik pada lambang-lambang atau pertanda yang disampaikan iklan.
Faktor situasi mempengaruhi pula penggunaan dua cara berpikir ini. Pada situasi yang Anda pandang berhubungan erat dengan diri Anda , Anda akan cenderung menggunakan pemikiran Sistematik. Sedangkan bila situasi tersebut tidak begitu erat kaitannya dengan diri Anda , Anda cenderung menggunakan pemikiran heuristic. Contoh saat Anda membaca surat kabar atau majalah. Anda cenderung menggunakan pemikiran sistematis saat membaca artikel, tulisan atau reportase yang ada kaitannya dengan pekerjaan Anda atau perusahaan Anda atau minat Anda, sedangkan untuk artikel dan tulisan lain yang tidak masuk dalam kategori minat Anda anda akan membacanya dengan pemikiran heurustic.


Faktor kepribadian di sisi lain juga berpengaruh terhadap penggunaan dua cara berpikir ini. Ada sejumlah orang yang lebih menyukai pemikiran yang satu ketimbang pemikiran yang lain. Ada sebagian orang yang memiliki kenyamanan dalam berfikir analitis dan selalu hati-hati dalam memikirkan sesuatu. Sedangkan ada orang lainnya yang kurang mau memikirkan sesuatu secara serius.
Meskipun demikian setiap hari pemikiran kita bergerak terus di antara 2 kutub ini. Seorang istri yang terhanyut saat menonton Film Kuch-Kuch Hotahai di Televisi sampai menangis, saat itu pemikirannya sedang dikuasai pemikiran heuristic. Sedangkan suaminya yang meledek istrinya dan mengatakan, ”Mah itu kan Cuma akting, di depan sini ada Sutradara, di sebelah kanan dan kiri ada lighting man, pake nangis segala” saat itu melihat film yang sama dengan pemikiran sistematik.
b. Bedah Kasus Kriminalitas yang dialamatkan ke Hypnosis
Kasus 1.
Suatu kali handphone si Doel bergetar, ada SMS masuk dan tertulis ”Selamat, Anda mendapatkan hadiah Handphone NOKIA model abc , hubungi nomor telepon XXXX”. Seseorang yang menggunakan pemikiran systematis, saat membaca tulisan di SMS itu akan langsung melacak fakta dan data apakah ia pernah ikutan program undian berhadiah atau tidak dan mengecek apakah nomor telepon tersebut adalah nomor telepon penyelenggara. Bila fakta dan data menunjukkan error, maka ia memutuskan untuk men-delete SMS itu.
Sementara itu Si Doel yang membaca SMS itu dan saat itu dikuasai pemikiran heuristic. Ia membaca itu dan menangkap Cues berupa bayangan enaknya dan bangganya sedang memakai handphone NOKIA terbaru dan sedang memamerkannya ke teman-teman. Pemikiran heuristic ini membuatnya bergerak untuk menghubungi nomor telepon XXXX. Saat si Doel menghubungi nomor telepon tersebut, dari seberang sana si penelepon mengajukan pertanyaan (data ini sudah diketahui awal oleh si penelepon) yang akan dijawab YA.
Penelepon ” Nama Anda Abdoel kan?
Abdoel ” Ya
Penelepon ” Alamat Anda di Jl. ….., kan ¿
Abdoel ” Ya
Penelepon ” Anda bekerja di ..... kan ...?
Abdoel ”Ya
Penelepon ” Anda akan dapatkan Handphone NOKIA , sayaratnya adalah KIRIMKAN PULSA sebesar Rp 100.000 ke Nomor . Kami tunggu 10 menit lagi agar NOKIA ini menjadi milik Anda.
Bila Abdoel tetap dalam pemikiran Heuristic, ia akan mencari pulsa , mengirimkan pulsa dan tentunya TAK ADA NOKIA. Menarik bahwa si penipu ini dalam menjalankan aksinya memanfaatkan betul pemikiran heuristic dan memanfaatkan pola komunikasi Pacing-Pacing-Pacing-Leading dan Yes Tag Question.
Kasus 2.
Abdul Jabbar mahasiswa UMJ naik angkot D01 Kebayoran Lama –Ciputat di depan pintu masuk Terminal Leba Bulus. Di bagian belakang angkot sudah ada penumpang di pojok seorang ibu. Ia kemudian memilih duduk di kursi sisi kanan angkot duduk di tengah. Angkot berjalan.
Di perempatan Pasar Jumat naik 3 penumpang laki-laki. Penumpang pertama duduk samping kanan Abdul Jabar. Penumpang kedua duduk samping kiri Abdul Jabbar. Penumpang ketiga berpakaian necis berdasi membawa selebaran pijat reflexi. Abdul Jabbar saat itu asyik sedang melihat fitur-fitur di handphone barunya.
Saat asyik-asyiknya, penumpang Necis berkata, Dek, Anda sepertinya cape sekali Ya ? Abdul Jabar menjawab ”Ya”, ”Sini saya pijat reflexi” kata si penumpang necis, sambil tangannya langsung memegang betis kiri Abdul Jabar dan memijitnya. Abdul Jabbar hanya berpikir orang ini baik banget nih . Saat pemikiran heuristiknya memenuhi kesadarannya, pemikiran sistematiknya lumpuh, tak sempat lagi sadari handphone ditaruh dimana. Ia asyik dengan pijitan pria necis.
Di Plaza Ciputat Mas , pria samping kanan menghentikan angkot lalu turun, Menjelang 50 meter lagi ke kampus UMJ , penumpang samping kiri berkata ” Mas, tadi bawa handphone kan ?”. Abdul Jabbar sadar dan mengecek handphone nya sudah raib. Penumpang samping kanan mengatakan ” Turun mas, segera, orang yang tadi turun tuh kayaknya yang ngambil”. Angkot pun berhenti. Abdul Jabbar turun, pria samping kanan turun, dan pria necis pun turun.
Menurut supir Angkot , ketiga pria ini berkomplot dalam menjalankan modus kejahatannya, ia tadi sudah mengingatkan Abdul Jabbar namun tidak digubris.
Kasus 3
Seorang Ibu bergegas keluar dari Bank Niaga Jl. Sudirman setelah mengambil uang. Ia berjalan menuju halte di depan Bank Niaga. Di halte ia melihat ada 3 orang laki-laki , 2 laki-laki di ujung sebelah kanan halte berdiri dengan badan seperti pegulat, tangan bertato dan tampang sangar. 1 laki-laki di ujung sebelah kiri berjas berdasi berpenampilan rapi dan membawa tas kulit dengan merk mahal.
Pemikiran yang muncul di si Ibu saat melihat 2 laki-laki bertato adalah ”wah gawat, mereka jahat, bahaya nih” . Pemikiran ini membuat si ibu kelihatan cemas dan ada pergerakan tubuh mendekati si pria perlente . Ini pun akibat pemikiran heuristic pula ”Laki-laki ini keren, murah senyum, rapi, bisa dipercaya”. Saat sang ibu mendekat , maka sangpria perlente mengajukan Yes Tag question , ”Ibu terlihat cemas Ya? ”, ”Ibu sepertinya ketakutan akan keselamatan ibu ?”, ” Ibu khawatir dengan kedua pria di ujung sana ?” Semua pertanyaan ini dijawab ”Ya” oleh si Ibu. Si perlente lalu mangajak si Ibu yang masih dalam pemikiran heuristic” BU, mari kita naik taksi bersama !”. Dan tanpa curiga sedikitpun, si Ibu ikut dengan sang pria perlente. Ternyata di Taxi inilah si Ibu akhirnya memberikan uangnya kepada si perlente.
Kasus 4
Seorang haji berusia 45 tahun dua bulan lalu mengisi kupon undian berhadiah mobil Xenia. Dua minggiu yang lalu ia mendapatkan Surat lengkap (dipalsukan) yang menyatakan bahwa ia memenangkan Xenia dan harus membayarkan pajak barang hadiah sekitar Rp 40 juta dan segera menghubungi nomor telepon XXXX . Pemikiran heuristic menyebabkan ia membayangkan sudah berada di dalam mobil Xenia dan berjalan-jalan dengan mobil barunya. Setelah menelepon nomor tersebut ia mendapatkan informasi bahwa Pajak Hadiahnya 75 % dibayarkan oleh perusahaan, ia tinggal membayarkan Rp 10 juta saja sekarang. Karena sang Haji dalam pemikiran heuristik, kalimat ini dipandang sebagai anugerah, keuntungan dll. Ia lupo mengecek peraturan perpajakan, ia pun hilap – mana ada pembayaran pajak menggunakan rekening pribadi, ia langsung mabur ke ATM BCA terdekat dan langsung transfer uang. Sepuluh juta melayang, Xenia hanya terbayang.
c. Pencegahan dari kejahatan tipe ini
1. Selalulah berupaya sadar saat di area publik, utamanya saat turun dan keluar dari kendaraan,saat keluar dari kerumunan, keluar dari teater atau tempat-tempat tertutup lainnya. Pulihkan kesadaran anda 100% .
2. Gunakan pemikiran systematik anda saat anda berada di area-area umum.
Salam hangat dari Ciwandan
Pun Sapun Ampun Paralun
Pakena Gawe Rahayu, Sangkan Nanjung di Juritan, Nanjeur di Buana.
Asep Haerul Gani







HYPNOSIS #3 HYPNOAD_1, GELITIK HEURISTIC DALAM BERIKLAN
20 April 2007
Asep Haerul Gani

Tulisan ini dibuat untuk Menjawab gelitikan Bpk. Ady A Subagya dan Bpk. Bobby Meidrie Levianto dari TCI
a. Iklan dan kredibilitas
Iklan adalah kata yang berasal dari Bahasa Arab (I'lan) , yang mempunyai makna antara lain pemberitahuan , ajakan dan bujukan kepada pembaca untuk melakukan tindakan tertentu.
Agar mempunyai kekuatan membujuk dan mempengaruhi tindakan seseorang, iklan alih-alih menggunakan argument yang mengemukakan fakta dan data yang dapat dianalisa secara akurat malah menggunakan Cue berupa pertanda-pertanda yang berhubungan dengan apa yang dipandang bernilai oleh pembaca.
Trainer, Motivator, Inspirator, Pembicara, atau apapun namanya adalah public speaker. Untuk dapat mempengaruhi public ia harus memiliki kredibilitas dan membangun daya tarik di mata audiensnya.
Kredibilitas adalah kemampuan public speaker untuk mendapatkan kepercayaan dari audiens . Kredibilitas ini dapat dibangun dengan membina keahlian sehingga orang tahu ia ahli dalam bidang apa. Kredibilitas juga dapat dibangun dengan membangun opini sehingga public percaya akan keahlian sang tokoh.
Persepsi public mengenai keahlian public speaker dapat diciptakannya dengan menyampaikan sejumlah hal yang disetujui audiens sehingga audiens merasa sama dengan public speaker dan terbangun rasa percaya kepadanya. Keahlian public speaker dapat pula ditanamkan dengan memperkenalkannya sebagai seseorang yang sangat menguasai topic yang akan dibahas. Expertise public speaker dapat pula dirancang saat ia menyampaikan materi dengan Lancar, membuat audiens terhanyut dan terpaku mengikuti pembicaraan.
b. 4 Taktik heuristic dalam beriklan
1. "Saya adalah orang cebol yang berdiri di atas pundak Raksasa" Newton.
Newton memberikan metaphor dirinya adalah orang cebol. Justru dengan ia berdiri di atas pemikiran-pemikiran Galileo Galilei, sang raksasa, maka ia cepat melesat dan kokoh dalam jagat keilmuan, khususnya Fisika.
Anda boleh saja tidak terkenal, tidak dikenal orang, tidak ada orang yang peduli tentang Anda. Carilah raksasa bagi diri Anda. Perkenalkanlah diri anda selalu dalam kaitan dengan sang raksasa, sampai terbentuk di pikiran orang bahwa si Cebol adalah Raksasa itu sendiri.
Anthony Robbins adalah Raksasa yang menimbulkan kesan porsitif bagi sejumlah orang. Memperkenalkan diri dalam kaitannya dengan Anthony Robbins adalah taktik ini.
Di beberapa materi iklan , Anda mungkin melihat Photo sang public speaker dengan Anthony Robbins . Anda mungkin pula pernah membaca frasa berikut "
- Pemegang Lisensi Anthony Robbins
- Murid terbaik Anthony Robbins
- Murid langsung dari Anthony Robbins
Lagi-lagi, pembaca iklan yang kuat dengan pemikiran systematik malah akan mempertanyakan bunyi frasa kalimat tadi .
Frasa " Pemegang Lisensi Anthony Robbins " mungkin akan dipertanyakan "Memang kalau berlisensi akan sama baiknya ? Apa jaminannya bahwa materi yang disampaikan berguna dan senilai dengan uang yang dikeluarkan".
Frasa " Murid terbaik Anthony Robbins " mungkin akan dipertanyakan "Apa bukti otentik bahwa ia murid terbaik? Atas dasar apa? Apakah bisa dipercaya? Apakah ada jaminan bahwa ia membuat kita belajar dengan baik?".
Frasa " Murid langsung dari Anthony Robbins " mungkin akan dipertanyakan "Apa murid langsung berarti bahwa ia mampu menyerap seluruh keterampilan? Apakah ia kompeten karenanya?".
Bila seseorang yang memang pernah berguru kepada Anthony Robbins menggunakan taktik ini, ini pun akibat memodel Iklan sang Guru , Anthony Robbins. Bukankah iklan-iklan Anthony Robbins pun mengatakan Anthony Robbins sebagai coach dari Tokoh-tokoh yang dikenal di dunia. Jadi Anthony Robbbin pun ikut nebeng Citra yang dimiliki para klien-nya yang terkenal itu.
Mengaitkan pembicara dengan Nama Perguruan Tinggi (yang terkenal) tempatnya kuliah dulu, Mengaitkan pembicara dengan Nama Guru (yang terkenal), nama murid/klien (yang terkenal), nama Lembaga (yang terkenal) adalah bagian dari taktik ini.
2. Opini Tokoh
Di salah satu iklan tentang training/seminar/workshop Anda mungkin pernah membaca opini dari seseorang Tokoh yang anda pandang kredibel dengan gelar dan jabatan yang memukau. Tokoh ini menyampaikan pendapat tentang training/seminar/workshop tersebut. Tentu saja pilihan kalimat dan kata-kata pun sudah sedemikian dipilh sehingga membuat pembaca yang saat itu menggunakan pemikiran heuristic berpikir bahwa training ini memang baik dan layak untuk diikuti, lha si Tokoh aja menyatakan demikian kok.
Strategi ini tentunya kurang mengena bagi pembaca iklan yang menggunakan pemikiran systematic. Ketokohan orang tersebut tidak bisa menjadi jaminan bahwa pendapatnya didukung oleh fakta dan data, apalagi sang Tokoh itu sendiri hanyalah beropini dengan dukungan informasi yang serba sedikit.
3. Testimoni (Kesaksian)
Di beberapa Iklan training, Anda bisa jadi pernah membaca kutipan pendapat peserta training. Tentu saja pendapat yang dipilih adalah pendapat yang bernada positif.Bahkan pemilihan peserta yang beropini pun adalah yang memancing cue tertentu. Ia bisa tokoh publik, selebritis, atau ahli tertentu. Kutipan-kutipan ini disusun sedemikian rupa sehingga menggiring pembaca yang menggunakan pemikiran heuristic untuk menyetujui, tertarik dan hadir.
Saudara Kiagus Rifdan Anshori, S.Psi , lulusan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dalam skripinya mengkaji seberapa besar pengaruh Opini dan Testimoni dalam Iklan tertentu terhadap Intensi untuk hadir dalam pelatihan tertentu. Walaupun tidak ada perbedaan signifikan, terbukti para pembaca iklan yang mengandung opini dan testimoni mempunyai skor intensi yang rata-rata lebih tinggi dari pembaca iklan tanpa opini dan testimoni.
4. Gelar, Sertifikasi, Jabatan , Julukan dan Award
Di beberapa iklan training, Anda menemukan pula penggunaan gelar-gelar akademis, profesi, jabatan bahkan julukan.
Gelar tertentu baik di depan atau di belakang nama Anda, akan membuat orang mempersepsinya dengan cara yang berbeda.
Dari beberapa kali kesempatan diundang berbicara di publik, saya menenggarai pembicara yang memiliki Gelar-gelar tersebut secara heuristic telah membangun pencitraan kredibilitas di pemikiran audiens dan akan lebih mudah membangun kredibilitas saat dia berbicara di hadapan audiens.
Marilah kita bereksperimen dengan nama ISMU NAMI , manakah di antara kalimat berikut yang menggelitik heuristik Anda untuk bergerak
a. Pembicara kita kali ini adalah Ismu Nami
b. Pembicara kita kali ini adalah Dr. Ismu Nami
c. Pembicara kita kali ini adalah Dr. Ismu Nami, Psikolog
d. Pembicara kita kali ini adalah Dr. Ismu Nami, Psikolog, NLP Certified Practitioner
e. Pembicara kita kali ini adalah Dr. Ismu Nami, Psikolog, NLP Certified Practitioner, Director Pusat Krisis UI
f. Pembicara kita kali ini adalah Dr. Ismu Nami, Psikolog, NLP Certified Practitioner, Director Pusat Krisis UI, Pembicara terheboh 2005
g. Pembicara kita kali ini adalah Dr. Ismu Nami, Psikolog, NLP Certified Practitioner, Director Pusat Krisis UI, Pembicara terheboh 2005, Motivator teruntung versi Majalah XYZ.
Saat anda sedang dalam pemikiran heuristic, Cue berupa gelar,sertifikasi, jabatan , julukan dan award bisa jadi membuat anda langsung mengatakan bahwa orang ini kredibel. Namun ketika anda dalam pemikiran systematis, kredibilitas itu hanyalah bisa dibuktikan justru saat anda melihat langsung, mendengar lagsung dan mengalami langsung training yang disajikan si pembicara.
Salam hangat dari Ciwandan
Pun Sapun Ampun Paralun
Pakena Gawe Rahayu, Sangkan Nanjung di Juritan, Nanjeur di Buana.
Asep Haerul Gani






HYPNOSIS #5: DUKUN DAN FENOMENA HYPNOSIS
23 April 2007
Asep Haerul Gani

a. Dukun di Filem Indonesia
Dukun di filem Indonesia digambarkan sangat klise. Berambut gondrong gimbal, berbaju warna hitam dan berasesoris macam-macam. Di lehernya ada kalung panjang teruntai, di tangan melilit hitam gelang bahar, dan di jari jemari penuh dengan cincin bermatakan batu mulia. Nyaris tak ada Dukun yang digambarkan ganteng dan necis. Gigi sang dukun pun berwarna hitam.Kulit sang Dukun pun legam. Panggilan Sang Dukun pun nyaris sama, yaitu Ki bagi laki-laki dan Mak bagi perempuan.
Ruangan praktek sang dukun digambarkan selalu temaram malah nyaris gelap. Bisa jadi ada nyala lampu meskipun kecil. Asap dupa yang dibakar mengalun. Semerbak wewangian. Di altar atau meja sederhana tersedia beragam oborampe , peralatan. Ada tengkorak manusia, ada keris dengan guratan pamornya, ada jarum dan duri enau di atas kain putih dan tak ketinggalan ada kembang tujuh rupa.
Suara sang Dukun uniknya justru paham sekali nada. Ia memperhatikan jeda. Ia menggunakan rima. Ia memanfaatkan kekuatan gaya bahasa. Kalimat-kalimat sang dukun seakan tersusun bagaikan prosa liris. Rangkaian kalimat berirama yang membuat klien makin rileks dan tenang.
Klien pada saat datang kepada Dukun nyaris hampir pasrah bongkokan. Ia sudah menggantungkan dirinya kepada Dukun. Di Filem Indonesia, klien pergi ke Dukun setelah beragam upaya yang menggunakan pikiran kritis dan nalar tak membuahkan hasil. Klien datang ke Dukun hampir dikatakan telah buntu.
Sang Dukun kemudian mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang maksud kedatangan. Setelah maksud dan niat kliennya diketahui dengan jelas sang Dukun biasanya menguji tingkat keyakinan kliennya. Sang Dukun memberinya
sejumlah syarat sebagai perantara kesembuhan kliennya. Syarat ini ada yang mudah didapat seperti menyediakan kemenyan, telur, merang, jerami, ayam jantan, kambing perawan. Ada pula syarat yang sukar didapat seperti menyajikan ayam cemani, rambut orang yang meninggal pada hari tertentu bahkan bersedia berasmaragama dengan Sang Dukun.
Semakin syarat tersebut dipenuhi, maka sang Dukun semakin sadari tingkat kepatuhan dan kepasrahan si klien. Mulialah sang dukun menjalankan karyanya. Sang Dukun lalu membakar dupa, menaburkan bunga, dan merapalkan kata-kata berirama, serta memberikan saran-saran kepada kliennya.
Saran-saran ada yang berupa langkah-langkah yang harus dilakukan klien.
Saran-saran ada yang berupa merapalkan kata atau kalimat pada keadaan tertentu
Saran-saran ada yang berupa klien menggenggam atau memelihara benda dengan khasiat tertentu
b. Fenomena Hypnosis dalam praktek Dukun
Dari sudut ilmu kinerja saraf (Neurologi) , keadaan trance dalam fenomena hypnosis mudah dicapai bila amygdala dirangsang. Amygdala ini bekerja antara lain dalam pengendalian perasaan (emosi). Menariknya Amygdala ini dapat dipicu kinerjanya secara cepat dengan memanfaatkan tri indra yaitu mata, telinga dan hidung.
Ruangan yang gelap sehingga lebih nyaman untuk mata agar menutup, hidung yang terangsang untuk membaui aroma dupa dan bunga, dan telinga yang ulang kali mendengar dengungan ritmis rapal japa , ketiganya makin mempercepat klien terangsang amygdalanya dan mudah baginya makin fokus, makin relaks dan makin trance.
Saat keadaan trance tercapai, maka pintu subconscious terbuka lebar. Kata-kata atau kalimat sang Dukun tak ubahnya dengan Sugesti atau Script. Inilah pemrograman kesembuhan klien yang telah disiapkan sang Dukun.
Ada klien yang lalu kebal senjata setelah ditanamkan rapal kekebalan. Ada klien yang lalu merasa memiliki sejuta pesona setelah dicangkokkan kalimat mantra samudra pesona. Ada pula klien yang merasa meningkat wibawanya setelah ia menggumamkan kalimat bratawibawa.
Pada saat trance terbangun, tak jarang sang Dukun mencangkokkan pula penggunaan benda tertentu untuk menampilkan hasiat tertentu. Saat sugesti ini tertanam di subconscious, maka program ini akan jalan saat dipicu. Tak penting bendanya apa. Ketika Sang Dukun membuat Sugesti "Saat anda memegang benda ini, maka api terasa dingin bagi anda " , apapun bendanya , puntung rokok, kerikil, mutiara, keris - selama pemrograman subconsciousnya sudah berhasil maka si Klien akan merasakan api dingin asalkan ia menggenggam benda tadi.
Mengapa tak sedikit wanita yang menjadi korban dukun cabul? Mengapa tak jarang orang menjadi korban dukun palsu? Ingat kembali keadaan saat seseorang datang ke dukun. Nyaris klien datang saat upaya menggunakan nalar yang kritis dirasakan telah lumpuh. Pada titik ini, maka ajakan-ajakan yang melawan nalar pun cenderung mudah diterima. Pada titik ini maka perintah-perintah yang sebelumnya dirasakan sebagai melanggar susila pun akhirnya menjadi tawar. Terlintas pikiran perlu pengorbanan untuk sebuah impian. Siapa yang patut dipersalahkan bila terjadi penipuan seperti ini? Klien yang dari awal menyiapkan dirinya ditipu atau Sang Dukun yang memang punya maksud menipu? Tak mudah menemukan jawabnya. Selama manusia mengedepankan egonya , bahkan terbukti terlibat dalam penipuan yang menyebabkan dirinya ditipupun, para korban selalu melakukan pembenaran.
Pun Sapun, Ampun Paralun
Pakena Gawe Rahayu, Sangkan Nanjung Di Juritan Nanjeur Di Buana
Salam hangat dari Ciwandan Cilegon
Asep Haerul Gani

HYPNOSIS #6: DODODAIDI DODODAIDANG, BANGUN PEKERTI DENGAN MENIMANG
24 April 2007
Asep Haerul Gani

Bila Anda sempat berkeliling ke pelosok negeri. Di setiap budaya Anda akan menemukan perilaku seorang Ibu yang sedang menimang anaknya . Sang Ibu dengan segenap jiwa mendekap sang anak. Sang Ibu dengan sepenuh kasih mengayun-ayunkan anak. Kadang sang Ibu hanya menyebut-nyebut nama sang Anak. Kadang sang Ibu bersenandung tanpa syair. Adakalanya pula sang Ibu menimang anak sambil bernyanyi.
Pada masa pertumbuhan, bayi hampir seratus prosen digerakkan oleh subconsciousnya. Otak bayi sedang berkembang. Bayi seakaan-akan dalam state yang reseptif, apapun diserap. Bayi boleh dikatakan dalam state yang selalu takjub terhadap hal baru. Penasaran akan hal yang belum dikenal. Semuanya menarik, tak ada yang patut ditakuti apalagi dibenci.
Bayi memiliki siklus tidur dan siklus bangun. Ibu yang baik sangat hapal dan terbiasa dengan siklus sang anak. Kegiatan menimang-nimang anak dilakukan Ibu untuk mempercepat sang Bayi perlahan-lahan masuk ke siklus tidur. State ini adalah state yang baik untuk pemrograman subconscious. Semakin sering sebuah kata atau kalmat di-install pada state ini, maka semakin akan mudah menempel. Pada konteks yang tepat pemrograman ini akan jalan dengan sendirinya.
Fenomena ini dalam hypnosis adalah HYPNOPOMPIC, yaitu keadaan fokus yang terbangun karena gelombang otak melemah ke alpha, menjelang tidur. Menimang-nimang anak adalah kegiatan yang dalam Hypnosis diberi nama INDUKSI, sebuah kegiatan yang dirancang agar semakin relaks dan semakin tenang. Syair-syair lagu yang didendangkan dapat dipandang sebagai SUGESTI atau PEMBELAJARAN atau PEMROGRAMAN yang ingin ditanamkan pada anak.
Saat pergi ke Banda Aceh. Saya banyak belajar mengenai budaya Aceh. Saya seakan melacak tapak Haji Hasan Mustapa Hoefd Panghoeloe penulis "Urang Aceh" sobat Snouck Hourgronye. Saya jadi bisa paham alasan mereka memiliki semangat juang dan semangat perlawanan yang terus membara. Di gampong-gampong waktu malam orangtua masih menceritakan Epos kepahlawanan rakyat Aceh. Di daerah Aceh Jaya bahkan pendengar Hikayat Perang Sabil bisa bangkit keberaniannya usai mendengar cerita.
Pembaca, Anda pun bisa mengerti bila Anak Aceh mempunyai nyali berani hidup tak takut mati. Lagu timang-timang DODODAIDI , yang kerap terdengar di Metro TV saat memberitakan Tsunami di Aceh dapat memberikan gambaran penanaman karakter apa kepada Anak-Anak Aceh.
Ingat kembali berita Tsunami yang ditayangkan Metro TV, dan bila Anda bersedia lagu tersebut masih ada di bank ingatan Anda. Silakan tutup mata, rilekskan tubuh Anda, dan sentuh ingatan Anda. Dengarkan kembali lagu yang menjadi sound background dari siaran tersebut.
Cermati nadanya. Cermati pilihan katanya. Cermati rasa bahasanya. Cermati situasi getirnya. Cermati perasaan yang dibangun. Rasakan emosi apa yang dibangun. Apresiasi karakter apa yang akan muncul.
Dan inilah syairnya dalam bahasa Aceh. Saya coba alihkan ke bahasa Indonesia atas konsultasi dengan Pak Mukhlis, Kepala Sekolah SDN Blang Bintang dan Pak Anwar Daud Kepala Sekolah SD Seumet.
DODODAIDI
Allah hai dododaidi/ Boh gadung bie boh kayee uteun/
Raye'k sinyak hana peu ma brie/ aeb ngen keji ureung donya kheun
Allah hai dododaidang/ Seulayang blang ka putoh talo/
Beurijang raye'k muda seudang/ Tajak bantu prang ta bela Nanggroe
Wahe aneuk bek ta duek le/Beudoh sare ta bela bangsa
Bek ta takot keu darah ile/ Adak pih mate po ma ka rela
Jak lon tateh, meujak lon tateh/ Beudeh hai aneuk ta jak u Aceh
Meube bak o'n ka meube timphan/ Meubee badan bak sinyak Aceh
Allah hai Po illa hon hak/Gampong jarak han troh lon woe
Adak na bulee ulon teureubang/Mangat rijang troh u nanggroe
Allah hai jak lon timang preuk/ Sayang riyeuk disipreuk pante'
O'h rayek sinyak yang puteh meupreuk/ Teh sinaleuk gata boh hate'
DODODAIDI
Allah hai anak kutimang-timang/ Buah gadung, buah kayu hutan
Jika Ananda besar ibu tak dapatlah memberi/ Aib dan keji mungkin dikata orang
Allah hai anak kutimang-timang/ Terbang Layang-layang di sawah putus talinya
Segeralah besar nak, jadilah pemuda gagah/ Maju berperang membela bangsa
Wahai anakku, Cukuplah duduk & berdiam diri / Ayo bangkit bersama membela bangsa
Jangan takut darah mengalir/ Meski kau mati ibu tlah rela
Mari pegangan nak belajar jalan/Bangunlah nak kita ke Aceh
Tercium harum bau daun timpan/ Seperti bau badan anak Aceh
Allah Sang Pencipta yang Punya Kehendak/ Pulang kampung jaraknya jauh
andaikan bersayap, Ibu kan melesat / supaya cepat sampai ke Nanggroe
Kemarilah Ibu timang-timang Nak/ sayangnya ombak memecah pantai
Bila Nanda Si putih kulit sudahlah besar/dimana engkau kelak berada belahan hati
Pun Sapun Ampun Paralun
Pakena Gawe Rahayu Sangkan Nanjung Di Juritan Nanjeur Di Buana
Salam hangat dari Ciwandan, Cilegon
Asep Haerul Gani


HYPNOSIS #7: PERAS SASTRA NYA DAPATKAN HYPNOSISNYA
24 April 2007
Asep Haerul Gani

" Johan , Ayo cepat mandi ....! Kok Anak mamah sampai lupa makan, lupa segala....?
" Tanggung nih mah.. lagi seru nih ceritanya ....
Sang Ibu tak mampu mengalihkan perhatian Johan dari Buku Harry Potter yang sedang dibacanya sambil tiduran.
Kejadian di atas bisa jadi sering Anda temui. Ini bisa terjadi pada diri Anda, teman, pasangan, anak, murid atau siapapun . Sang penulis sedemikian hebatnya merangkai jalinan kata dan kalimat sehingga dapat memicu hayalan Anda. Anda bisa jadi masuk ke dalam sang tokoh. Anda merasakan naik turunnya perasaan sang tokoh. Anda menjadi semakin terlibat dalam petualangan sang Tokoh. Anda menjadi semakin fokus. Anda merasuk dan menjadi bagian dari cerita.
Bila keadaan tersebut Anda pernah alami, Anda sebenarnya telah ter-HYPNOSIS. Tentu saja , Anda masih terjaga. Anda tidak tidur. Hanya saja seluruh indra Anda terfokus pada cerita yang Anda baca. Kekuatan seorang penulis atau sastarawan ada pada kemampuan merangkai kata merajut makna.
Sastra banyak ragamnya. Ia bisa berupa pepatah. Ia bisa terungkap dalam perumpamaan. Ia bisa tampil dalam peribahasa. Ia bisa mewujud dalam pantun, gurindam dan syair. Ia juga dapat merupa dalam puisi, prosa dan prosa puisi. Ia dapat unjuk diri dalam sabetan wayang atau permainan boneka. Bahkan ia juga dapat mentas dalam wujud bermain pura-pura, berlakon atau drama.
Saya jadi teringat pengalaman 20 tahun lalu jaman Pak Harto masih berkuasa. Kami belain ngumpet-ngumpet baca "Anak Semua Bangsa" karya Pramudya Ananta Toer. Kami nekat mengambil resiko diciduk aparat saking sudah terhypnosis oleh gaya penceritaan Pramudya. Teman kami, sebut saja si Acong bahkan bisa nongkrong berjam-jam di kedai taman bacaan melalap KHO PING HOO.
Sastra mengajarkan banyak hal. Sastra menyisipkan inti dengan rikip . Sastra mengajarkan nalar lewat alur. Sastra membelajarkan dengan samar. Tak ada kesan menggurui, menceramahi apalagi mengindoktrinasi.
Pembelajaran dibangun dengan cara rahasia. Mulanya dibuatnya Anda suka. Awalnya dibuatnya Anda tertarik. Lalu diajaknya Anda masuk mengikuti alurnya.
Milton Erickson adalah tokoh Hypnotherapy yang kuat dalam menggunakan kata . Pemodelan terhadapnya melahirkan pola-pola bahasa Hypnosis yang biasa disebut sebagai Hypnotic Language Pattern (HLP). Bisa jadi tidak mudah mempelajari HLP. Namun cobalah Anda baca novel kesukaan Anda. Sang penulis sangat piawai menggunakan HLP. BIsa jadi para penulis tidak pernah mempelajari Hypnosis. Akan tetapi pengalaman mereka dalam dunia sastra, mendorong mereka menguasai beragam gaya, lagu, dan gejala kebahasaan.
Dalam sejarah manusia, tak heran bila Sastra selalu ada pada foklore setiap bangsa. Ada Sastra dalam Legenda. Ada Sastra dalam Sasakala. Ada Sastra dalam Epos dan Ada Sastra dalam Agama. Cukup dapat dipahami bukan, bila kitab-kitab suci tertulis dalam bentuk Sastra. Pemanfaatan Sastra untuk perubahan dalam Ericksonian Hypnosis disebut Methapor.
Saatnya Anda apresiasi Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji dari Pulau Penyengat.
Temukan HLP nya. Serap ruh kekuatan rimanya. Raih pembelajarannya.
Gurindam pasal yang pertama:
Barang siapa tiada memegang agama, sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.
Barang siapa mengenal yang empat,maka ia itulah orang yang ma'rifat.
Barang siapa mengenal Allah,suruh dan tegahnya tiada ia menyalah.
Barang siapa mengenal diri,maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri.
Barang siapa mengenal dunia,tahulah ia barang yang teperdaya.
Barang siapa mengenal akhirat, tahulah ia dunia mudarat .
Gurindam pasal yang kedua:
Barang siapa mengenal yang tersebut, tahulah ia makna takut.
Barang siapa meninggalkan sembahyang, seperti rumah tiada bertiang.
Barang siapa meninggalkan puasa, tidaklah mendapat dua termasa.
Barang siapa meninggalkan zakat, tiadalah artanya beroleh berkat.
Barang siapa meninggalkan haji, tiadalah ia menyempurnakan janji.
Gurindam pasal yang ketiga:
Apabila terpelihara mata, sedikitlah cita-cita.
Apabila terpelihara kuping, khabar yang jahat tiadalah damping.
Apabila terpelihara lidah, niscaya dapat daripadanya paedah.
Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan, daripada segala berat dan ringan.
Apabila perut terlalu penuh, keluariah fi'il yang tiada senunuh.
Anggota tengah hendaklah ingat, di situlah banyak orang yang hilang semangat.
Hendaklah peliharakan kaki, daripada berjalan yang membawa rugi.
Gurindam pasal yang keempat:
Hati kerajaan di dalam tubuh, jikalau lalim segala anggotapun rubuh.
Apabila dengki sudah bertanah, datanglah daripadanya beberapa anak panah.
Mengumpat dan memuji hendaklah pikir, di situlah banyak orang yang tergelincir.
Pekerjaan marah jangan dibela, nanti hilang akal di kepala.
Jika sedikitpun berbuat bohong, boleh diumpamakan mulutnya itu pekongl.
Tanda orang yang amat celaka, aib dirinya tiada ia sangka.
Bakhil jangan diberi singgah,itupun perampok yang amat gagah.
Barang siapa yang sudah besar,janganlah kelakuannya membuat kasar.
Barang siapa perkataan kotor, mulutnya itu umpama ketur2.
Di mana tahu salah diri, jika tidak orang lain yang berperi.
Gurindam pasal yang kelima:
Jika hendak mengenal orang berbangsa, lihat kepada budi dan bahasa.
Jika hendak mengenal orang yang berbahagia, sangat memeliharakan yang sia-sia.
Jika hendak mengenal orang mulia, lihatlah kepada kelakuan dia.
Jika hendak mengenal orang yang berilmu, bertanya dan beiajar tiadalah jemu.
Jika hendak mengenal orang yang berakal, di dalam dunia mengambil bekal.
Jika hendak mengenal orang yang baik perangai, lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai.
Gurindam pasal yang keenam:
Cahari olehmu akan sahabat, yang boleh dijadikan obat.
Cahari olehmu akan guru, yang boleh tahukan tiap seteru.
Cahari olehmu akan isteri, yang boleh dimenyerahkan' diri.
Cahari olehmu akan kawan, pilih segala orang yang setiawan.
Cahari olehmu akan abdi, yang ada baik sedikit budi.
Gurindam pasal yang ketujuh:
Apabila banyak berkata-kata, di situlah jalan masuk dusta.
Apabila banyak berlebih-lebihan suka, itulah tanda hampirkan duka.
Apabila kita kurang siasat, itulah tanda pekerjaan hendak sesat.
Apabila anak tidak dilatih, jika besar bapanya letih.
Apabila banyak mencela orang, itulah tanda dirinya kurang.
Apabila orang yang banyak tidur, sia-sia sahajalah umur.
Apabila mendengar akan khabar, menerimanya itu hendaklah sabar.
Apabila mendengar akan aduan, membicarakannya itu hendaklah cemburuan.
Apabila perkataan yang lemah-lembut, lekaslah segala orang mengikut.
Apabila perkataan yang amat kasar, lekaslah orang sekalian gusar.
Apabila pekerjaan yang amat benar, tidak boleh orang berbuat onar.
Gurindam pasal yang kedelapan:
Barang siapa khianat akan dirinya, apalagi kepada lainnya.
Kepada dirinya ia aniaya, orang itu jangan engkau percaya.
Lidah yang suka membenarkan dirinya, daripada yang lain dapat kesalahannya.
Daripada memuji diri hendaklah sabar, biar daripada orang datangnya khabar.
Orang yang suka menampakkan jasa, setengah daripada syarik mengaku kuasa'.
Kejahatan diri sembunyikan, kebajikan diri diamkan.
Keaiban orang jangan dibuka, keaiban diri hendaklah sangka.
Gurindam pasal yang kesembilan:
Tahu pekerjaan tak baik, tetapi dikerjakan, bukannya manusia yaitulah syaitan.
Keiahatan seorang perempuan tua, itulah iblis punya penggawa.
Kepada segala hamba-hamba raja, di situlah syaitan tempatnya manja.
Kebanyakan orang yang muda-muda, di situlah syaitan tempat berkuda.
Perkumpulan laki-laki dengan perempuan, di situlah syaitan punya jamuan.
Adapun orang tua yang hemat, syaitan tak suka membuat sahabat.
Jika orang muda kuat berguru, dengan syaitan jadi berseteru.
Gurindam pasal yang kesepuluh:
Dengan bapa jangan durhaka, supaya Allah tidak murka.
Dengan ibu hendaklah hormat, supaya badan dapat selamat.
Dengan anak janganiah lalai, Supaya boleh naik ke tengah balai.
Dengan isteri dan gundik janganlah alpa, supaya kemaluan jangan menerpa.
Dengan kawan hendaklah adil supaya tangannya jadi kafill.
Gurindam pasal yang kesebelas:
Hendaklah berjasa, kepada yang sebangsa.
Hendaklah jadi kepala, buang perangai yang cela.
Hendaklah memegang amanat, buanglah khianat.
Hendak marah, dahulukan hajat.
Hendak dimulai,jangan melalui.
Hendak ramai,murahkan perangai.
Gurindam pasal yang kedua belas:
Raja muafakat dengan menteri, seperti kebun berpagarkan duri.
Betul hati kepada raja, tanda jadi sebarang kerja.
Hukumy adil atas rakyat, tanda raja beroleh anayat'.
Kasihan orang yang berilmu, tanda rahmat atas dirimu.
Hormat akan orang yang pandai, tanda mengenal kasa dan cindai.
lngatkan dirinya mati, itulah asal berbuat bakti.
Akhirat itu terlalu nyata, kepada hati yang tidak buta.
Pun Sapun Ampun Paralun
Pakena Gawe Rahayu, Sangkan Nanjung Di Juritan, Nanjeur di Buana
Salam hangat dari Ciwandan, Cilegon
Asep Haerul Gani


WELLFORMED PROBLEM
15 Juni 2007
Mariani NG

Kata ‘Well-Formed Outcome’ tidak asing bagi mereka yang sudah mengenal NS-NLP. Juga bagi mereka yang ikut pelatihan untuk goal setting, umumnya pada akhir tahun untuk menyusun target rencana bisnis tahun berikutnya. Well-Formed Outcome merupakan salah satu teknik untuk perancangan target (outcome) yang lebih terstruktur lengkap dengan rencana pelaksanaannya.
Lha, Well-Formed Problem? Problem setting? Merencanakan masalah?
(Terminologi ini dari buku ‘Change Management Excellence: Putting NLP to Work’ by Martin Robert ).
Setiap orang pernah memiliki problem/masalah. Masalah tetap masalah, mau dirubah atau diartikan (reframing) dengan tantangan (challenge), kesempatan (opportunity); tetaplah masalah. Ada beberapa reaksi yang muncul ketika seseorang bermasalah. Ada yang langsung memvonis dirinya bermasalah dan langsung bingung tidak keruan, tidak melakukan apapun kecuali terus berpikir ‘kenapa begini?’ - masalah menguasai dirinya.
Ada juga yang memvonis dirinya bermasalah dan terus berusaha mencari solusi untuk ‘memperbaiki diri’. Komputer yang sering ‘hang’ ditangani dengan sering ‘save’ dan ‘back-up’ data daripada mencari solusi memperbaiki komputernya. Lagi2, masalah menguasai dirinya. ‘Ini tantangan buat saya agar data selalu aman’, kira-kira begini pikiran orang bersangkutan.
Ada lagi, sekali bermasalah dianggap selalu bermasalah – lalu menyalahkan nasib. ‘Memang sudah nasib, selalu bermasalah’. Alhasil, ketika ada kesempatan yang muncul-pun akan dianggap sebagai masalah. Dengan kata lain, pesimis - negative thinking.
Dan masih banyak lagi reaksi-reaksi yang muncul ketika bermasalah.
Semua ini muncul karena cara berpikir yang cenderung generalisir, menyamakan satu hal dengan hal lain. Kejadian hanya sekali dianggap telah terjadi berulang kali – selalu terjadi. Bila terjadi di satu tempat maka pasti akan terjadi di mana-mana.
Akibatnya muncul distorsi (penyimpangan dari kenyataan yang sebenarnya) dan deletion (mengabaikan beberapa fakta). Bahwa masalah terjadi karena ‘saya’ dan hanya ‘saya’ yang mengalami, padahal ada orang lain yang juga mengalami hal serupa. Masalah diidentifikasikan dengan jati diri sendiri dan selalu terjadi, permanen.
Satu hal yang menarik dari sifat manusia, bahwa manusia ‘suka’ dengan masalah. Mau seoptimis apapun cara berpikirnya, ada kecenderungan melihat sisi resiko yang bakal terjadi. Saya setuju bila hal itu dikatakan sebagai waspada. Akan beda bila kemudian menjadi curiga, apalagi pesimis. Khusus untuk orang-orang yang demikian, maka saya sarankan untuk menjalani well-formed problem ini berikut ini:
1. Kenali apa masalahnya.
a. Bagaimana anda tahu itu bermasalah?
Kata orang? Atau anda lihat/dengar sendiri?
b. Pahami masalah secara spesifik, tanyakan:’Apa masalahnya secara spesifik?’
c. Apakah masalah ini menjadi masalah? Menghalangi anda? Dalam hal apa?
Langkah pertama ini untuk men-spesifik-kan proses generalisir, ‘chunk-down’ dan klarifikasi masalah. Pada langkah awal ini bisa terjadi bahwa sebenarnya tidak ada masalah. Masalah muncul ketika dipermasalahkan.

2. Pisahkan masalah dari diri sendiri.
a. Kapan itu terjadi? Perhatikan jawabannya, selalu – sering (berarti hanya beberapa kali) – hanya waktu itu saja.
b. Siapa saja yang terlibat?
c. Dalam konteks apa?
d. Apa yang membuat hal bersangkutan menjadi masalah bagi anda?
e. Bagaimana anda bisa bertemu dengan masalah ini?

Perhatikan kata-kata yang diucapkan. ‘Menjadi masalah’ – ‘bertemu dengan masalah’ secara tidak langsung menjadikan masalah sebagai obyek yang terpisah dari diri pribadi.

3. Analisa masalah.
a. Apa arti masalah itu bagi diri anda?
b. Dari arti yang diberikan, apa yang perlu dilakukan untuk menangani masalah ini?
c. Bagaimana masalah ini menghalangi anda?
d. Bagaimana anda tahu bila masalah ini tidak terjadi?
e. Bagaimana pula anda tahu bila masalah ini sudah berhasil ditangani?
f. Apa yang perlu dilakukan?

Perhatikan bahwa pertanyaan 3b mirip 3f. Namun 3b mengacu pada spirit/semangat yang dirasakan, sedangkan 3f mengacu pada solusi. Umumnya 3f membutuhkan waktu lebih lama karena menyangkut rencana tindakan. Hindari kata tanya ‘mengapa’ karena kata ini mengajak seseorang untuk langsung asosiasi dan memperluas masalah.
Jadi, bila anda merasa bermasalah – atau bertemu dengan orang-orang yang merasa bermasalah, berikan ucapan selamat karena mereka manusia alamiah, bisa merasakan masalah. Lalu ajak lakukan ‘well-formed problem’, merancang masalah dengan serius :-)
~ Saat kita tidak bisa merubah masalah yang terjadi,
kita bisa merubah arti dan respon kita atas masalah tersebut ~


JADUL NLP #1. STATE
26 Juni 2007
Asep Haerul Gani

State di kamus punya makna beragam. State bisa diartikan wilayah. Istilah state digunakan di kalangan psikologi pertama kali adalah dalam Transactional Analysis untuk menggambarkan keadaan pemikiran , perasaan dan kecenderungan untuk bertindak. Dalam NLP ,STATE atau lengkapnya STATE OF MIND adalah keadaan menyeluruh antara tubuh dengan keadaan neurologisnya yang berupa pikiran, perasaan dan kcenderungan untuk bertindak bahkan tindakan.
STATE ini akan saling mempengaruhi dengan posisi Tubuh, Pikiran, Perasaan dan Tindakan yang dilakukan.
Perhatikanlah raga orang yang sedang gembira, kecewa, marah, menahan geram, sedih, menangis, putus asa. Setiap STATE ternyata mempunyai kapling raganya masing-masing. Karena itu para aktor dan aktris professional mudah untuk mendapatkan STATE tertentu hanya dengan mengubah dan mengolah raga saja.
Mari kita bereksperimen mengenai STATE ini.
Pikirkanlah pengalaman saat Anda bahagia . Lihatlah wajah Anda di cermin .
Pikirkanlah pengalaman saat Anda sedih. Lihatlah wajah Anda di cermin.
Buatlah wajah Anda seperti yang terlihat di cermin saat Anda merasa bahagia. Lalu rasakanlah perasaan yang muncul
Buatlah wajah Anda seperti yang terlihat di cermin saat Anda merasa sedih. Lalu rasakanlah perasaan yang muncul
Mengubah posisi tubuh akan mengubah STATE. Melakukan gerak akan mengubah STATE. Berolah raga mengubah STATE, Menari mengubah STATE, berjoget mengubah STATE, Yoga mengubah STATE, Meditasi mengubah STATE , Silat mengubah STATE , Berdoa dan Sholat mengubah STATE.
Mengatur pikiran akan mempengaruhi STATE. Memunculkan pikiran damai menghasilkan STATE . Memunculkan pikiran rusuh menelurkan STATE. Mengendalikan pikiran sama dengan mengendalikan STATE.
Terserah Anda mau mulai dari mana. Anda dapat mengubah State dengan merasakan perasaan , menciptakan pikiran atau melakukan gerak tertentu.
Di salah satu sekolah kepribadian yang mengajarkan membangkitkan rasa percaya diri. Latihannya justru bukan dengan mengelola pikiran peserta. Peserta dilatih berjalan santai, wajah menatap ke depan, nafas lancar dan energi mantap di seluruh tubuh dan beban terbagi imbang ke kaki kanan dan kiri. Latihan berulang-ulang. Dan ajaib, peserta jadi Pede abis.
Di ketentaraan , para calon prajurit dilatih pede, sigap dan cekatan dengan baris berbaris , hadap kiri , hadap kanan, jalan di tempat, maju jalan, serong kiri, serong kanan dan hormat .
Bagaimanakah State Anda saat ini ? sadarilah gerak tubuh dan mimik wajah Anda.
Bagaimanakah gerak tubuh dan mimik wajah Anda saat ini? Sadarilah itulah State Anda.
Pun Sapun, Ampun Paralun
Pakena Gawe Rahayu, Sangkan Nanjung di Juritan Nanjeur di Buana
Salam hangat dari Ciwandan
Asep Haerul Gani

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar